Karel Satsuitubun, Pahlawan Revolusi Alumni SPN Passo Ambon Gugur Saat Peristiwa G30S PKI

oleh -1.390 views

suaramaluku.com – Nama Karel Satsuitubun sudah dikenal di berbagai kota sebagai nama jalan dan lainnya. Ia bukanlah perwira tinggi TNI atau Polri. Namun merupakan seorang prajurit Angkatan Kepolisian Republik Indonesia (sekarang Polri) semasa hidupnya.

Beliau adalah salah satu pahlawan revolusi yang gugur saat peristiwa Gerakan 30 September (G30S) Partai Komunis Indonesia (PKI) tahun 1965, yang merupakan peristiwa kelabu dan membuat para petinggi ABRI waktu itu diculik dan dibunuh secara keji.

Sebagai prajurit Polri, figur Karel Satsuitubun penuh dengan perjuangan dan operasi penumpasan pemberontakan dimana-mana pasca Indonesia merdeka seperti di Sumatera, Sulawesi Selatan, Irian Jaya dan lainnya.

Lantas dimanakah Karel Satsuitubun menempuh pendidikan polisi dan memulai karier prajuritnya?

Karel yang dilahirkan di desa Rumadian Tual, Maluku pada 14 Oktober 1928 ini, ternyata memulai karier sebagai prajurit Angkatan Kepolisian Republik Indonesia (kini Polri) di Ambon.

Sesuai hasil penelitian sejarah Frans Hitipeuw dkk tahun 1985, menulis bahwa Karel Satsuitubun memulai pendidikan calon agen polisi pada Sekolah Polisi Negara (SPN) yang berlokasi di Negeri Passo Ambon pada 1 Agustus 1951.

Selanjutnya diangkat sebagai Agen Polisi II pada satuan Mobile Brigade (Mobrig) DNS Ambon (sekarang Brimob Polda Maluku) tanggal 1 Februari 1952.

Kemudian ia dipindahkan ke Mobrig DKN Cilincing Jakarta. Usai ikut Sekolah Mobrig selama tiga di SPN Cabang Megamendung, Karel ditugaskan ke Kantor Polisi Sumatera Utara/Aceh bulan Februari 1955.

Kurang lebih tiga tahun bertugas di Ciputat, Karel lantas ditugaskan selama enam bulan di Sulawesi Selatan pada Juli 1958. Berikutnya ditarik ke Kedunghalang Bogor tahun 1959. Tak lama disitu, Karel ditugaskan ke Sumatera Barat untuk pengamanan pemberontakan PRRI/Permesta selama enam bulan.

Sejak lulus dari SPN Passo Ambon, karier Karel banyak dihabiskan di medan operasi. Karena selain yang disebutkan diatas, pada 18 Maret 1963 ia kembali ditugaskan dalam operasi Trikora selama 10 bulan di perbatasan Irian Barat (Papua).

No More Posts Available.

No more pages to load.