Presiden Jokowi Datangi Tanimbar, Setelah Soekarno 64 Tahun Lalu

oleh -135 views
Presiden RI pertama Ir Soekarno dan Presiden RI saat ini Joko Widodo di Saumlaki Tanimbar. -dokumen-

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Iriana mengunjungi kota Saumlaki, Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, Jumat (2/9/2022).

Kedatangan Jokowi dan ibu negara tersebut, disambut ribuan warga sejak tiba di Bandara Mathilda Batlajery pada Kamis (1/9/2022) maupun saat mengunjungi pasar Olilit dan beberapa lokasi lainnya.

Sebelum memasuki pasar, Presiden dan Ibu Iriana menyapa, berfoto, membagikan kaos, buku, dan masker kepada warga.

Menanggapi antusiasnya warga Saumlaki sambut dirinya dan rombongan, Jokowi mengatakan, bahwa masyarakat sudah lama tidak bertemu pemimpinnya.

“Mungkin sudah lama sekali di Saumlaki, di Kepulauan Tanimbar ini tidak pernah dikunjungi (Presiden), sudah lebih dari 50 tahun,” kata Jokowi saat memberikan keterangan pers di Kantor Pos Saumlaki, Tanimbar Selatan, Jumat (2/9).

“Kalau masyarakat begitu antusias ya karena mereka mungkin kepingin ketemu pemimpinnya,” sambungnya, seperti dikutip dari merdeka.com.

Sedangkan Pj Bupati Kepulauan Tanimbar Daniel Indey menjelaskan, bahwa Presiden RI pertama yang mengunjungi Kepulauan Tanimbar adalah Presiden Soekarno pada tahun 1958 atau 64 tahun lalu.

“Tentunya masyarakat bergembira, senang, dan antusias menyambut Presiden Jokowi, mengingat kunjungan terakhir Presiden ke Tanimbar adalah Presiden Soekarno tahun 1958,” kata Daniel, seperti dilansir Tribunnews.

Ikut hadir dampingi Presiden dan Ibu Iriana, yakni Menteri Sekretaris Kabinet (Mensekab) Pramono Anung dan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Bahlil Lahadalia.

Hadir pula Gubernur Maluku Murad Ismail dan istri, Pangdam XVI Pattimura Mayjen TNI Ruruh Aris Setyawibawa, serta Kapolda Maluku Irjen Pol Lotharia Latif

SOEKARNO BAWA BANYAK DUBES

Sementara itu, tercatat dalam sejarah Maluku dan khususnya bagi Kepulauan Tanimbar bahwa Presiden RI pertama Ir Soekarno pernah menginjakkan kaki di Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Pada 4 November 1958, Kapal Mangkara dan Djadayat yang dikawal oleh sejumlah kapal perang merapat di Saumlaki, ibukota Maluku Tenggara Barat, Maluku saat itu. Masyarakat antusias sambutnya. Karena presiden pertama Indonesia, Soekarno, menjadi salah satu penumpang kapal.

Saat itu, Soekarno membawa serta sejumlah duta besar (dubes) negara lain, seperti Dubes Negara Arab Persatuan, Republik Rakyat Tiongkok, Filipina, Pakistan, Turki, Amerika Serikat, Jepang, Kanada, Uni Soviet, Hongaria, dan Irak.

Ikut pula wartawan luar negeri dari Amerika Serikat, Uni Soviet, Tiongkok, dan juga wartawan-wartawan dalam negeri, sebagaimana pernah ditulis Kompas.com.

Saumlaki seperti ingin dikenalkan kepada dunia, bahwa kota di Kepulauan Tanimbar itu adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia sekalipun lokasinya berada jauh dari pusat kekuasaan di Jakarta dan berada di daerah terluar dari tanah air.

Dibandingkan ke Jakarta, jarak Saumlaki lebih dekat ke Timor Leste dan Australia. Namun, dengan paradigma kemaritiman sekarang ini, Saumlaki yang terletak di Pulau Yamdena sesungguhnya adalah pintu terdepan negeri ini.

Barangkali karena posisinya yang jauh dari pusat kekuasaan, sebelum kedatangan Presiden Jokowi, baru dua pemimpin nasional yang mengunjungi Saumlaki. Selain Soekarno pada 1958, pemimpin kedua yang kunjungi Saumlaki adalah Wakil Presiden Boediono pada 5-6 November 2010, persis 52 tahun setelah kunjungan Soekarno.

Pada tahun 1958 itu, di hadapan masyarakat Saumlaki dan tamu asing yang dibawanya, Soekarno pun berpidato, meneguhkan kedaulatan Indonesia yang saat itu sudah 13 tahun merdeka.

“Saudara-saudara, kadang-kadang masih ada orang-orang yang memakai perkataan penyerahan kedaulatan. Pada tanggal 17 Agustus 1945 kita memproklamasikan kemerdekaan kita. Kemudian di dalam bentuk Republik Indonesia kita kembali dicoba oleh pihak Belanda untuk digempur. Namun usaha mereka mengalami kegagalan dan akhirnya tanggal 27 Desember 1949 mereka mengakui kedaulatan kita. Dengarkan perkataan Bapak, mengakui kedaulatan kita,” ujar Soekarno dalam pidatonya.

Data lain yang dihimpun, dalam kunjungan kerja itu, sang Proklamator menyempatkan diri melawat desa Alusi Krawain pada Jumat, 4 November 1958.

Mendapat kehormatan dikunjungi oleh Bapak Pendiri Bangsa sekaligus orang nomor 1 di republik yang baru berdiri beberapa tahun, masyarakat setempat menyambut beliau dengan penuh antusias dan sukaria.

Pertemuan bersama masyarakat desa dilakukan di sebuah pantai, yang kemudian diabadikan dengan namanya, Pantai Soekarno. Kursi kayu yang diduduki orang nomor satu Indonesia saat itu, masih disimpan sampai sekarang oleh Melkior Rerebain dan istrinya.

Bapak Meki, sapaan akrabnya menyimpan kursi bersejarah itu di dalam kotak kaca karena kondisinya yang makin lapuk, juga agar memudahkan pengunjung yang hendak melihat langsung saksi bisu kedatangan Bung Karno di desa Alusi Krawain. (NP)

No More Posts Available.

No more pages to load.