Kisah Imelda Leiwakabessy Relawan di PD 2006 Ketemu Kanselir, Beckenbauer, Platini, Istri Beckham

oleh -577 views

suaramaluku.com – Euforia dan semarak Piala Dunia (PD) 2022 di Qatar menjadi sorotan penggemar dan pencinta sepakbola di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, khususnya di Ambon Maluku.

Event olahraga terakbar yang berlangsung hampir satu bulan itu, pasti punya cerita tersendiri bagi mereka yang pernah menonton langsung di stadion. Apalagi bagi person yang sempat bertugas sebagai relawan resmi untuk panitia penyelenggara.

Kisah menjadi.relawan di PD, ternyata dialami nona Ambon bernama Imelda Leiwakabessy, yang akrab disapa Imel. Ia lahir di Ambon 24 Oktober 1980 dan

merupakan anak dari musisi senior Harry Leiwakabessy dan Timothea de Lima.

Imelda bertugas sebagai relawan pada PD 2006 di Jerman. Saat itu, dia sedang kuliah S2 (magister) Teknik Lingkungan, Stuttgart University, Jerman (2006-2008). Sedangkan S1 nya diraih pada Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Nona Ambon yang kini bekerja sebagai Tenaga Ahli (Senior Social Protection Operations Specialist) pada Sekretariat Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) – Sekretariat Wakil Presiden RI (2012- saat ini), kisahkan pengalaman jadi relawan PD 2006 secara tertulis kepada media ini, pekan kemarin.

Menurutnya, kisah hingga dirinya bisa jadi relawan PD 2006 itu, terjadi ketika sedang pendidikan S2 di Stuttgart, Jerman. Tiba di sana pada 1 Januari 2006. Waktu itu, sempat dibuka pendaftaran bagi yang ingin terlibat sebagai tenaga relawan atau yang ingin membantu dalam penyelenggaraan PD 2006 dan ia ikut mendaftar.

“Motivasi saya iingin merasakan langsung terlibat dalam penyelenggaraan salah satu ajang olahraga terbesar di dunia. Kebetulan saat nonton PD 1998 melalui televisi di rumah keluarga di Bandung, saya sempat bercita-cita ingin nonton langsung di negara tempat diadakan ajang tersebut. Puji Tuhan, cita-cita itu terwujud di tahun 2006,” tulis Imelda, yang juga pernah Tenaga Ahli pada Sekretariat Jenderal DPR-RI (2011).

Pertandingan sepanjang pelaksanaan PD 2006 dilaksanakan di beberapa kota besar di Jerman, salah satunya adalah di Stuttgart yang memiliki Gottlieb-Daimler Stadium (sekarang bernama: Mercedes-Benz Arena).

Pasca pendaftaran kemudian pada bulan Mei 2006 saya mendapatkan email dari panitia penyelenggara PD yang menyatakan bahwa saya telah lulus proses seleksi melalui email.

Setelah email itu, kemudian mendapatkan email susulan berisi informasi dimana dan kapan saya harus memproses dan mendapatkan kartu identitas (ID) untuk dipergunakan selama penyelenggaraan PD.

Kartu ini selain berfungsi sebagai kartu identitas juga dapat dipergunakan untuk mengakses berbagai moda transportasi umum yang tersedia di Jerman (bus, u￾bahn, s-bahn, dll) secara gratis selama penyelenggaraan event tersebut.

Selama PS sebenarnya dia bisa bertugas di Stuttgart dan di Munich. Namun, mengingat masih harus jalankan kewajiban ikuti perkuliahan, maka Imelda memilih jalankan tugas untuk pertandingan-pertandingan yang di Stuttgart saja.

“Selain hari pertandingan, kami juga bertugas H-1 dari setiap pertandingan untuk siapkan berbagai hal yang diperlukan. Jadi jika di Stuttgart ada enam pertandingan, saya harus bekerja selama 12 hari, yang berarti jika waktu itu bentrok dengan kuliah maka ada waktu-waktu kuliah yang harus saya korbankan,” tutur wakili Maluku pada Pertukaran Pemuda Antara Negara (PPAN) Indonesia-Kanada, 2002-2003 ini.

Saat itu, pertandingan yang diselenggarakan di Stuttgart yaitu perebutan juara 3 Jerman vs Portugal. Babak16 Besar Inggris vs Ekuador. Penyisihan grup Perancis vs Swiss, Pantai Gading vs Belanda, Spanyol vs Tunisia dan Australia vs Kroasia.

KANSELIR DAN PARA LEGENDA

Sebagai mahasiswa internasional yang dianggap lebih fasih berbahasa Inggris. Imelda dapat tugas melayani tamu VIP/VVIP yang hadir untuk menonton pertandingan di Gottlieb-Daimler Stadium.

Untuk tamu VIP dan VVIP disediakan ruangan khusus agar mereka dapat menikmati waktu bercengkerama dan menikmati hidangan saat sebelum dimulainya pertandingan, istirahat antar babak, dan saat pertandingan telah berakhir.

Para tamu yang hadir di VVIP umumnya adalah tamu-tamu penting seperti kepala negara/pemerintahan, presiden/pengurus organisasi sepakbola (FIFA, UEFA, DFB, World Cup Organising Committee, dll), sedangkan tamu VIP di antaranya adalah para pelatih sepakbola ternama di dunia, para atlet ternama, dll.

“Saya ingat ketika bertugas sempat bertemu Angela Merkel (saat itu menjabat Kanselir Jerman), Sepp Blater (menjabat sebagai Presiden FIFA), Michel Platini, dan Franz Beckenbauer (menjabat Ketua Organising Committee World Cup 2006), Michael Schumacher (pembalap F1) dan lainnya,” ungkap Imelda.

Baginya ada peristiwa yang dianggap lucu. Ini terkait dirinya bukan penggemar berat sepakbola, jadi tidak terlalu tahu figur-figur yang terkenal di bidang tersebut.

Suatu waktu sepulang bertugas dari stadion bersama teman menonton di televisi wawancara seorang reporter dengan figur sepakbola terkenal, ketika melihat itu Imelda berkata kepada temannya bahwa tadi di stadion dia sempat bertemu dengan figur tersebut.

Temannya sangat kaget dan berkata, “yang benar Imee?! Tadi ketemu dia?!” Terus bagaimana?” Imelda berkata bahwa ia berinteraksi seperti biasa saja karena tidak kenal dia siapa. Ternyata figur tersebut adalah Arsene Wenger, pelatih Arsenal FC.

KELUARGA DAVID BECKHAM

Imelda juga menceritakan pengalamannya ditugaskan untuk mengawal keperluan keluarga pemain top Inggris, David Beckham selama mereka berada di stadion.

Yakni pada pertandingan yang bertempat di Stuttgart dan cukup mendapat sorotan adalah babak 16 Besar antara Inggris melawan Ekuador. Ketika ketahui bahwa tim Inggris akan bermain, kami yang bertugas bersemangat karena adanya pemain bintang David Beckham. Selain itu, jjuga beredar info kemungkinan anggota keluarga kerajaani Inggris akan hadir.

Rupanya keluarga dari David Beckham dapatkan fasilitas khusus di stadion selama pertandingan tersebut. Mereka diberi “booth” khusus untuk ditempati selama pelaksanaan pertandingan, yang dapat langsung menonton sekaligus menikmati hidangan untuk para tamu VIP/VVIP.

“Tidak disangka. Saya ditunjuk oleh manajer kami untuk bertugas khusus mengawal keperluan keluarga David Beckham selama ada di booth tersebut. Saya terkejut, kenapa harus saya? Manajer yakin saya bisa jalankan tugas dengan baik. Sebelum pertandingan mulai, saya diajak berkeliling oleh manajer bertemu pihak terkait di stadion dan diperkenalkan sebagai person in charge atas keluarga Beckham,” tutur Imelda.

Ketika saatnya tiba. Victoria Beckham, istri David Beckham bersama anak-anaknya yang saat itu masih kecil-kecil (Brooklyn dan Romeo) hadir di dalam booth. Ternyata hadir juga Cheryl Tweedy (yang saat itu sudah bertunangan dengan pemain Inggris, Ashley Cole).

Ada juga dua orang pengawal pribadi yang berjaga-jaga di pintu masuk booth serta terkadang bermain dengan anak-anak Beckham. Selain makanan dan minuman, di dalam booth juga disediakan perlengkapan gambar dan mewarnai untuk menunjang aktivitas kedua anak Beckham.

“Puji Tuhan, tugas saya mengawal keperluan keluarga Beckham semuanya bisa berjalan dengan baik.; Hingga akhirnya mereka meninggalkan stadion dengan gembira karena Inggris memenangkan pertandingan tersebut. Setelah itu, saya mendapatkan sebuah kartu yang dititipkan Victoria Beckham melalui manajer saya, sebuah kartu berisi foto dan tanda tangan dari David Beckham, sebagai ucapan terima kasih,” kata istri dari Arthur Glen Maail ini.

Imelda menambahkan, hal yang berkesan lainnya, ia dan kawan-kawan alami di Stuttgart saat perebutan juara tiga, antara tuan rumah Jerman dan Portugal. Sangat terasa sekali kemeriahan, stadion seakan bergemuruh. Semakin meriah ketika diakhiri kemenangan tim tuan rumah.

“Setelah pertandingan selesai, kami yang telah usai bertugas untuk mengawal tamu VIP dan VVIP juga turun ke lapangan ikut merayakan kemenangan tim tuan rumah. Sungguh merupakan suatu pengalaman yang tidak akan terlupakan,” ujarnya.

Untuk diingat. Tim yang berhasil tampil sebagai juara PD 2006 adalah Italia. Setelah di partai final kalahkan Prancis dalam adu penalti.

Imelda juga tak lupa soal catatan penting selama jadi relawan PD 2006. “Selama pertandingan di stadion, kami yang bertugas tidak diperkenankan bawa kamera atau telepon genggam. Sehingga tidak dapat mengabadikan momen-momen pada cerita dan suasana yang sulit diulangi lagi,” pungkasnya. (novi pinontoan)

No More Posts Available.

No more pages to load.