Hikayat “Ose Tar Lia” dan Temuan Lukisan Kuno Langka Gambarkan Perahu Maluku Pernah Kunjungi Australia

oleh -1,405 views
oleh
Para arkeolog telah menemukan sebuah gambar langka yang mewakili perahu-perahu dari Maluku, Indonesia yang ditemukan dalam sebuah karya seni cadas di Gunung Awunbarna, Australia. (sumber: Flinders University)

suaramaluku.com – Di wilayah Maluku khususnya Ambon dan pulau-pulau sekitarnya,

sejak dulu kala ada hikayat (cerita atau kisah) di kalangan rakyat, bahwa nama benua atau negara Australia itu berasal dari para pelaut orang Maluku.

Hikayat tersebut menuturkan, saat para pelaut dari Maluku berlayar menuju arah selatan kepulauan mereka, suatu ketika diantaranya ada yang berteriak posisi mereka sudah mendekati daratan.

Namun ada pula yang tidak percaya. Lantas pelaut yang melihat daratan itu, spontan menyela dengan kalimat “Ose Tar Lia” yang artinya kamu tidak melihat kah ? Sambil menunjuk ke arah daratan luas yang kemudian dikenal sebagai benua Australia.

Cerita rakyat tersebut, hingga tahun 1980 an masih sering diceritakan orang-orang tua kepada anak-anaknya di Ambon – Maluku.

Nah terkait dengan itu, apa ada hubungannya atau tidak? Yang pasti, para arkeolog yang berasal dari Universitas Flinders menemukan sebuah gambar langka yang mewakili perahu-perahu dari Maluku, Indonesia.

Gambar tersebut ditemukan dalam sebuah karya seni cadas di Gunung Awunbarna, Australia. Temuan ini bisa menjadi salah satu bukti arkeologi pertama yang menunjukkan adanya kunjungan dari wilayah Asia Tenggara, khususnya dari tempat-tempat selain Makassar di Sulawesi Selatan.

Melansir Ancient Pages pada 31 Mei 2023, seni cadas tersebut bukan sekadar lukisan biasa, melainkan sebuah bukti historis yang mengungkap pertemuan yang sebelumnya belum pernah dicatat dan sulit untuk diinterpretasi. Pertemuan ini terjadi antara masyarakat adat Awunbarna di Arnhem Land dengan para pengunjung yang berasal dari Maluku, sebuah wilayah di utara Australia.

Yang menarik dari seni cadas ini adalah dua gambar perahu yang digambarkan di dalamnya. Dari segi desain dan motif, perahu-perahu tersebut memiliki kesamaan dengan perahu-perahu khas Asia Tenggara yang berasal dari Maluku.

Hal ini berbeda dengan perahu Makassan atau perahu-perahu Barat yang biasa ditemukan di lokasi-lokasi kontak lain di wilayah utara Australia. Detil yang ditampilkan dalam gambar tersebut memadai untuk memverifikasi dan mengonfirmasi identitas perahu-perahu ini

Selain dari bentuk fisik perahu, ada fitur-fitur khas yang membedakannya, termasuk bendera berbentuk segitiga, panji-panji, dan juga hiasan pada bagian haluan perahu yang menunjukkan status pertahanan atau bela diri mereka.

Saat disandingkan dengan data historis mengenai perahu-perahu dari Asia Tenggara, terutama yang berasal dari wilayah Maluku Tenggara, ada kemungkinan besar bahwa perahu-perahu dalam gambar tersebut memang berasal dari wilayah tersebut.

MUNGKIN INTERAKSI ANTAR SUKU

Penggambaran perahu-perahu Maluku dalam seni cadas yang ditemukan di Awunbarna menimbulkan spekulasi menarik, yakni orang-orang Aborigin mungkin telah bertemu dengan perahu-perahu semacam itu saat melakukan perjalanan ke utara.

Dengan asumsi bahwa mereka kemudian memutuskan untuk search melukis pengalaman tersebut dalam bentuk seni cadas setelah kembali ke tempat tinggal mereka, ini menunjukkan adanya interaksi atau setidaknya kesadaran akan kehadiran perahu-perahu tersebut.

Hasil penelitian yang diungkapkan dalam jurnal History Archaeology menunjukkan bahwa detail dan teknik penggambaran perahu dalam seni cadas tersebut menunjukkan pengetahuan yang mendalam.

Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang Aborigin mungkin telah menghabiskan waktu yang cukup lama mengamati perahu-perahu ini dari dekat, atau bahkan memiliki pengalaman langsung berada di dalam perahu semacam itu.

Perahu-perahu Maluku, yang seringkali dikenal sebagai “kerajinan tempur”, dikaitkan dengan berbagai kegiatan seperti perdagangan, penangkapan ikan, eksploitasi sumber daya, dan bahkan perburuan kepala atau perbudakan.

Kehadiran perahu-perahu semacam itu mungkin menandakan adanya potensi konflik atau kekuasaan, yang bisa bersifat fisik atau setidaknya sebagai simbol dari kekuatan dan dominasi.

Namun, detail spesifik mengenai bagaimana dan kapan pertemuan antara seniman Aborigin di Amburbarna dan perahu-perahu Maluku terjadi masih belum terungkap sepenuhnya. Para peneliti menyatakan bahwa untuk memahami konteks yang lebih luas dari interaksi ini, diperlukan penelitian lebih mendalam. (NP/berbagai sumber)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.