Ternyata 2,6 Kg Emas Hiasan Kubah Masjid di Kayeli Buru Dicuri Sang Kakek

oleh -95 views
oleh
Oknum AG, pelaku pencurian emas 2,6 Kg hiasan kepala kubah Masjid Al-Huda, Buru, Maluku ditangkap polisi. (Foto dok. Polres Buru)

suaramaluku.com – Seorang kakek berinisial AG (67 tahun), adalah pelaku pencurian emas 2,6 kilogram yang dijadikan hiasan kepala kubah Masjid Al-Huda di Kabupaten Buru, Maluku. Ternyata, pelaku juga merupakan guru mengaji di masjid itu.

“Pekerjaan sehari nelayan, dia juga guru ngaji di masjid Al-Huda,” ujar Kapolres Buru AKBP Sulastri Sukijang seperti ditulis detikcom, Senin (11/3/2024).

Menurut Sulastri, pelaku AG bukan warga asli Desa Kayely sebagai lokasi Masjid Al-Huda. Namun dia mengakui pelaku memang sudah lama menetap hingga menjadi guru mengaji di desa tersebut.

“Asli Kayely bukan, dia orang Malut, tapi sudah nikah dan tinggal di sana,” katanya.

Pelaku AG sendiri beraksi seorang diri menggunakan dua tangga yang terbuat dari kayu dengan ukuran tinggi tangga 5,18 meter dan tinggi 3 meter.

Pelaku juga membekali diri tali nilon warna hijau, dan kayu panjang berukuran 5 meter yang di ujungnya dipakukan besi 6 sebagai pengait.

“Motif tersangka kebutuhan ekonomi, karena tersangka terlalu banyak utang-piutang sehingga tersangka berani mengambil tindakan pencurian tersebut,” sambungnya.

Seperti diketahui, emas murni yang dicuri oleh pelaku AG itu merupakan hasil jerih payah penambang dan warga desa setempat yang disumbangkan menjadi hiasan kubah masjid. Emas tersebut setara Rp 3 miliar.

“Jadi warga dan penambang menyisakan rezeki berupa biji emas dari hasil menambang di Gunung Botak. Total sumbangan terkumpul saat itu 2,6 kilogram emas murni setara Rp 3 miliar,” kata Raja Petuanan Negeri atau Desa Kayely, Fandi Ashari Wael kepada detikcom, Selasa (5/3).

Fandi menjelaskan, inisiatif membuat kepala kubah masjid berhias emas bermula di tahun 2014 silam. Saat itu, Gunung Botak yang masuk petuanan Desa Kayely, Kecamatan Teluk Kaiely, bermunculan emas.

Raja Desa Kayely sebelumnya M. Fuad Wael, ayah Fandi kemudian berinisiatif buat hiasan kepala kubah masjid dari emas Gunung Botak. Hiasan itu juga untuk dijadikan ikon desa.

Perangkat desa lalu ditugaskan khusus mengumpulkan biji emas yang disumbangkan secara sukarela oleh penambang dan warga desa. Setahun berselang, tepat di tahun 2015 emas yang dikumpulkan capai 2,6 kilogram.

“Kita lalu datangkan para pengrajin dari Sulawesi Selatan untuk buat kepala kubah masjid berukiran lafaz Allah berbahan emas,” jelasnya. (*/SM-05)

No More Posts Available.

No more pages to load.