Lagu Timur Mendunia: Misi Miguel Kaidel dari Belanda untuk Musik Maluku

oleh -1,170 views
oleh

suaramaluku.com – Lagu-lagu Indonesia Timur saat ini benar-benar sedang mendapat tempat di hati para pecinta musik tanah air.

Hal ini tentu saja membuka banyak peluang bagi para musisi asal Indonesia Timur untuk bisa menunjukan karya mereka di pentas musik nasional.

Bukan saja penyanyi dan dancers, penampilan DJ yang memainkan lagu-lagu khas Timur juga seringkali menjadi daya tarik untuk mengundang orang bergoyang.

Peluang ini dibidik juga oleh Miguel Kaidel, seorang DJ muda keturunan Maluku yang lahir dan besar di Assen, Belanda.

Baginya, perjalanan bermusik bukan sekedar soal tampil di panggung-panggung besar. Lebih dari itu, ada misi yang terus ia bawa ke mana pun ia melangkah.

Mengangkat musik Timur, khususnya lagu-lagu dari Maluku, agar dikenal lebih luas bukan hanya di Indonesia, tetapi hingga ke panggung dunia. Meskipun lahir dan dibesarkan di Belanda, ia melihat Jakarta sebagai ruang penuh peluang baginya.

Di kota inilah ia mulai membangun jaringan bersama para musisi asal Maluku dan Indonesia Timur lainnya seperti Papua, NTT dan Sulawesi, hingga tercetus sebuah gerakan bernama Timur Sessions. Juga dengan kelompok dancer anak-anak Timur yakni Moluccan Soul.

Perlahan namun pasti, para musisi timur ini pun akhirnya mendapat tempat di hati masyarakat. Mereka kerap tampil di beberapa sudut ibukota, dengan jargon “Timuran Jaksel” yang kemudian menjadi viral dimana-mana. Mereka bahkan menjadi salah satu yang paling dinantikan oleh warga ibukota.

“Sekarang lagu Timur itu lagi jadi tren,” ujarnya saat ditemui di sela-sela acara Maluku Rame-Rame di Woerden, Belanda akhir pekan lalu.

Namun baginya, tren saja tidak cukup. Ia ingin musik Timur memiliki tempat yang setara dengan musik pop Indonesia lainnya—berkembang, bertahan lama, dan terus relevan.

Langkah awal itu ternyata membuahkan hasil. Tak lama setelah Timuran Jaksel digelar, tawaran tampil di Jakarta mulai berdatangan.

Miguel semakin serius menapaki industri dengan bangun koneksi dan perluas panggung. Dari klub-klub di Jakarta hingga kota-kota seperti Semarang, Yogyakarta, Solo, Makassar, musik Timur terus digaungkan lewat panggung DJ.

Salah satu momen paling diingat dalam perjalanannya mencoba peruntungan di Indonesia adalah saat tampil di acara Pesta Pora 2025.

Baginya, itu sebuah pencapaian yang tidak kecil, karena lewat panggung sebesar itu ia bisa full memainkan lagu-lagu dari kawasan Timur Indonesia.

Miguel percaya bahwa ada kerinduan dari para perantau, terutama anak-anak Ambon dan Indonesia Timur di Jakarta, untuk mendengar musik dari kampung halaman mereka.

Dan keyakinan itu terbukti. Respons penonton menjadi bukti bahwa musik Timur memiliki tempat tersendiri di hati banyak orang.

Meski telah tampil di berbagai kota, termasuk juga Kota Dobo Kepulauan Aru yang merupakan daerah asal Ibunya, ada satu panggung yang masih menjadi impiannya yaitu Lapangan Merdeka di Ambon.

Baginya, tampil di sana bukan sekadar soal karier, tetapi juga soal pulang membawa kembali musik yang ia perjuangkan ke tanah asalnya. Di sisi lain, ia juga menyoroti peran musisi Maluku yang tumbuh di Belanda.

Menurutnya, ada keinginan kuat dari mereka untuk berkontribusi pada perkembangan musik Maluku. Beberapa kolaborasi sudah terjalin, namun masih ada tantangan yang harus dihadapi.

Perbedaan industri musik antara Belanda dan Indonesia jadi salah satu kendala utama. Namun, ia tetap optimistis. Percaya bahwa dengan membangun koneksi yang kuat, buka kolaborasi, saling mendukung, musisi Maluku baik di Indonesia maupun di Belanda dapat tumbuh bersama.

“Beta mau kasih motivasi dan inspirasi juga,” katanya. Ia ingin generasi muda Maluku di Belanda melihat bahwa mereka juga bisa belajar banyak dari musisi di Ambon, begitu pula sebaliknya.

Baginya, kunci utama adalah kolaborasi dan keberanian untuk bergerak. Baik musisi Maluku di Belanda maupun yang ada di Maluku sama-sama punya tanggung jawab untuk memajukan musik Timur, khususnya Maluku.

Miguel menekankan bahwa perubahan harus datang dari para musisi itu sendiri. Dari karya, konsistensi, dan semangat untuk terus berkarya.

Kini, di tengah kesibukannya berkeliling Indonesia, ia menemukan kebahagiaan dalam setiap proses yang dijalani. Jakarta memberinya peluang, tetapi Maluku memberinya identitas.

Dan di antara keduanya, ia membangun jembatan menghubungkan suara Timur dengan dunia yang lebih luas. Berharap, suatu hari nanti, musik Timur tidak lagi sekadar dianggap tren.

Melainkan menjadi bagian penting dari lanskap musik global yang hidup, berkembang, dan mendunia. (Febby Kaihatu, Belanda).

No More Posts Available.

No more pages to load.