suaramaluku.com – Namanya Romi Kermite, orangnya low profile. Supel dan gaul. Dibalik kesederhanaannya, banyak orang tidak tahu profesi dan kesehariannya.
Lelaki kelahiran Negeri Ariate, Seram Bagian Barat (SBB) 46 tahun lalu ini, adalah seorang Aparat Sipil Negara (ASN).
Romie sehari-harinya bekerja di Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Ambon, berstatus dibawah Kementerian Kesehatan RI sejak 2014.
Pada tahun 2018, dia mendapat tugas belajar dari instansinya di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Sampai kini, Romie tetap setia mengabdi di instansinya. Namun dari saat pendidikan sebagai mahasiswa di Undip itulah, ia semakin gemar dengan minum kopi dan belajar otodidak menyeduhnya.
“Beta gemari kopi saat kuliah di Undip. Bersama teman-teman kita saling belajar dan menyeduh kopi. Dari situlah timbul minat menggeluti hal ihwal tentang minuman kopi. Jadi hobi begitulah,” ungkap Romie.
Pada bulan Maret 2021, ia kemudian wujudkan impiannya bikin kedai kopi yaitu “Trotoar Coffe”. Lokasinya pada emperan trotoar di depan sekolah STM (kini SMK) di kawasan Kudamati.
“Ide bikin Trotoar Coffe itu, diawali bersama beberapa teman seduh kopi di jalan Pattimura, pas di trotoar depan SD PDK, sebelah Kantor Pos Amboina. Istilahnya kopi jalanan,” kisahnya kepada penulis, Selasa (1/8/2026).
Saat buka Trotoar Coffe itu, dia turut melibatkan anak-anaknya untuk mengelola dan sekalian memberi pelajaran berusaha buat mereka.
Tidak mengganggu pekerjaan utama sebagai ASN kah?
“Oh tidak. Karena beta tetap disiplin jalankan tugas sebagai ASN dari pagi sampai sore. Pulang kantor, barulah sekitar jam 5 sore, beta buka Trotoar Coffe. Tutupnya sesuai banyak tidaknya pelanggan,” ujarnya.
Romie mengaku, lantaran sudah hobi tentang kopi, ia akhirnya juga mencoba menanam pohon kopi varietas lokal di kampungnya, Negeri Ariate.
“Beberapa pohon sudah mulai berbuah,” katanya.
Selain itu, dari hobinya tersebut di luar pekerjaan utama sebagai ASN, dia juga pernah diminta untuk melayani langsung seduh kopi di beberapa acara intansi pemerintah.
Diantaranya saat acara Polda Maluku di Gedung Presisi Mapolda kawasan Tantui dan di atas kapal patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan di Teluk Ambon.
“Itu pengalaman di luar profesi sebagai ASN. Bersyukur dengan geluti kopi, kita diakui dan dihargai. Paling tidak, ada pengakuan lah,” ucapnya, tertawa.
Bagi Romie, hidup adalah dinamika. Tidak hanya terpaku pada satu aspek kehidupan. Jadi, menjadi seorang abdi negara sebagai ASN, bukanlah akhir segalanya.
Apalagi dengan kemajuan era ekonomi kreatif dan teknologi saat ini, semuanya tergantung pada masing-masing orang untuk melihat peluang. Tentunya selama kita mau berusaha dan bekerja keras, pasti ada solusi dan kepuasan atas jerih payahnya.
“Intinya. Sebagai ASN itu pengabdian kita. Sedangkan bikin Trotoar Coffe adalah menyalurkan hobi dan ide ekonomi kreatif. Tentunya, jangan lupa mensyukuri hikmat dan kesehatan yang Tuhan beri. Jadi, hidup ini mengalir saja,” tutur Romie. (NP)






