Maspaitella Jadi Ketua Latupati Maluku, Pelu Jabat Sekretaris, Gubmal Ajak Perkuat Peran Masyarakat

oleh -78 views
oleh

suaramaluku.com – Raja Negeri Rutong (Upu Latu Lopurisa Uritalai), Reza Valdo Maspaitella, terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Latupati Maluku periode 2026–2031.

Hasil penetapan tersebut diperoleh melalui Musyawarah Besar (Mubes) IV Majelis Latupati Provinsi Maluku yang berlangsung di Baileo Oikumene, Ambon, Jumat (16/10/2026).

Selain itu, Mubes juga menetapkan Raja Negeri Hitu Lama, Salvana Pelu, dipercaya menjabat posisi Sekretaris.

Sedangkan, ketua umum Latupati periode 2017 – 2026 yakni Ibrahim Wokas (Raja Negeri Urung, Seram Bagian Timur) diangkat sebagai Ketua Dewan Adat serta posisi Sekretaris adalah RJB Lailosa (Raja Waraka, Maluku Tengah).

PERKUAT PERAN MASYARAKAT

Sementara itu, Gubernur Maluku (Gubmal), Hendrik Lewerissa, saat membuka Mubes IV Latupati Maluku itu, mengajak seluruh raja dan kepala pemerintahan negeri adat untuk memperkuat peran dalam menjaga kerukunan antarnegeri, menyelesaikan persoalan adat, serta mendukung pembangunan daerah.

Lewerissa menegaskan, Mubes merupakan momentum penting untuk mengevaluasi kepengurusan sekaligus memperkuat tanggung jawab Latupati terhadap negeri-negeri adat dan masyarakat yang dipimpin.

“Perbedaan pilihan adalah hal yang wajar dalam musyawarah, tetapi jangan sampai meninggalkan perpecahan,” tegasnya.

Sebagai Upulatu Maluku, ia juga mengingatkan para pemimpin adat agar senantiasa dekat dengan masyarakat, mendengarkan aspirasi dan kesulitan warga, serta memberikan ruang bagi generasi muda untuk berperan dalam kehidupan negeri.

Menurutnya, kehormatan seorang raja tidak hanya terletak pada gelar dan kedudukan adat, tetapi juga pada kepercayaan masyarakat yang dipimpinnya.

Selain itu, Lewerissa meminta Latupati Maluku berperan aktif memfasilitasi penyelesaian persoalan batas wilayah dan petuanan antar negeri yang masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah.

Penyelesaian persoalan tersebut, katanya, harus mengedepankan kebijaksanaan, keterbukaan, dialog konstruktif, bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, hukum adat yang relevan, serta ketentuan yang berlaku.

“Jangan biarkan persoalan batas petuanan merusak hubungan antar negeri,” ujarnya.

Gubernur juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, mengingat Maluku merupakan wilayah kepulauan yang rentan terhadap gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, serta kebakaran hutan dan lahan.

Ia mengajak Latupati mendorong peningkatan kesadaran masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah serta instansi terkait.

Di sisi pembangunan, Gubernur mengajak para pemimpin adat mendukung agenda strategis daerah, antara lain perjuangan Rancangan Undang-Undang Daerah Kepulauan, pengembangan Blok Masela, pembangunan Maluku Integrated Logistic Hub, serta pemanfaatan Bendungan Way Apu untuk memperkuat ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Ia berharap dukungan para pemimpin adat dapat memastikan pembangunan berjalan seiring dengan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat, kelestarian lingkungan, dan kepentingan negeri-negeri di Maluku.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Anggota DPR RI Sadiah Uluputy, Wagub Maluku Abdullah Vanath, pimpinan DPRD Provinsi Maluku dan Kota Ambon, unsur Forkopimda Provinsi Maluku dan Kota Ambon, Sekda Maluku Sadali Ie, Sekretaris Kota Ambon,

Bupati Maluku Tengah, Ketua dan pengurus Latupati Maluku, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Pemprov Maluku dan Kota Ambon, pimpinan perguruan tinggi dan akademisi, para Upulatu dan Inalatu peserta musyawarah besar. (*/SM-05)

No More Posts Available.

No more pages to load.