ANAK MALUKU DI TNI AU; Ada Tiga Jenderal Satu Marga dan Penerbang Turunan Tionghoa Pertama di Indonesia

oleh -65,361 views
oleh

PENERBANG LEGENDARIS TNI AU

Pilot atau penerbang asal Maluku yang punya reputasi dan prestasi hebat pada jaman orde lama maupun orde baru adalah Marsda TNI Leonardus Willem Johanes Wattimena atau lebih dikenal sebagai komodor Leo Wattimena. Ia adalah perwira penerbang legendaris di matra udara TNI. Sayangnya, beliau meninggal di usia masih muda 48 tahun.

Leo Wattimena adalah rekan Roesmin Nuryadin mantan Menteri Perhubungan era Soeharto. Keduanya dikenal sebagai komodor udara Indonesia. Rekan-rekan Leo beberapa diantaranya menjadi Kepala Staf TNI AU dengan pangkat jenderal penuh atau bintang empat.

Ia merupakan salah satu kadet penerbang yang dikirim pada awal Indonesia merdeka untuk ikut pendidikan Sekolah Penerbang selama satu tahun di California, Amerika Serikat pada 1950. Sekitar 60 kadet yang dikirim pemerintah Indonesia untuk mengikuti pendidikan penerbang “Trans Ocean Airlines Oakland Airport” (TALOA).

Selama mengikuti pendidikan di Taloa, Leo Wattimena menjadi lulusan terbaik dari 45 kadet yang menjadi penerbang, dan selebihnya menjadi navigator. Dari hasil yang sangat membanggakan itu membuat dirinya dapat kesempatan bersama 18 rekannya untuk melanjutkan pendidikan instruktur selama tujuh bulan di TOLOA.

Pada 1955, Leo dikirim ke Inggris untuk mengikuti pendidikan instruktur di Royal Air Force (RAF). Lagi-lagi, Leo menjadi lulusan terbaik. Oleh beberapa teman penerbang dari India, Leo dijuluki G-maniac karena kegemarannya melakukan berbagai manuver di udara. G-maniac diambil dari kata G-lock, yaitu kondisi kehilangan kesadaran ketika sedang melakukan akrobatik di udara.

Leo juga dijuluki “Si Gila” ketika bermanuver dan beraksi dengan jet tempur Mustang nya. Ia pernah menerbangkan jet tempurnya di bawah kolong jembatan Ampera Palembang serta merupakan penerbang AURI pertama yang mendarat di wilayah Irian Barat (Papua).

Tetapi perjalanan karier hebat Leo Wattimena di TNI AU kandas oleh persoalan politik. Yakni tensi politik yang terjadi tahun 1965-1966 ketika peralihan kepemimpinan orde lama ke penguasa orde baru. Waktu itu, dalam berbagai referensi disebut Soeharto yang saat itu jadi Pangkostrad merasa “diancam” oleh Leo Wattimena via pesan telegram.

Akhirnya saat Soeharto naik menjadi Presiden gantikan Soekarno. Maka reputasi cemerlang Leo Wattimena sebagai penerbang jet tempur dan perwira TNI AU pun “terkunci”. Bahkan di usia karier yang masih lama karena baru berumur 42 tahun, Soeharto putuskan untuk “karyakan” Leo Wattimena sebagai Duta Besar RI di Italia. Itu membuatnya frustasi dan bersikap undur diri dari dinas aktif.

Padahal seabrek prestasi dan jabatan srategis dijabat Leo Wattimena. Bahkan sempat menjadi wakil komandan nya Soeharto dalam Operasi Komando Mandala untuk Irian Barat.

Jabatan-jabatan yang pernah dijabat Leo Wattimena adalah Pimpinan Armada Vampire Skadron Udara 11 Lanud Kemayoran (1957-1961), Instruktur Sekolah Penerbang Lanjutan (SPL) Kalijati (1958), Wakil II Panglima Komando Mandala/Panglima AU Mandala (1958).

Kemudian juga Panglima Komando Operasi AURI (1963), Panglima Komando Pertahanan Udara (1966), Anggota MPRS (1966), Deputi Operasi Menteri/Panglima AU, Duta besar RI di Italia (1969) dan Staf Ahli KSAU.

Kebanyakan rekan-rekan Leo saat sekolah penerbang di Amerika dan Inggris, kemudian menjadi menteri dan jenderal penuh di jaman orde baru dengan menjabat Kepala Staf TNI AU (Kasau).

Leo Wattimena berpangkat dua bintang atau Marsda, justru ketika ia meninggal dunia tahun 1976 di usianya baru 48 tahun. Untuk mengenang penerbang legendaris itu, nama Leo Wattimena diabadikan sebagai nama Pangkalan Udara di Pulau Morotai, Maluku Utara dan juga nama jalan di kawasan Passo Ambon.

No More Posts Available.

No more pages to load.