Mantan “Ratu” Atletik Indonesia, Carolina Rieuwpassa Meninggal Dunia

oleh -1,189 views
oleh
Carolina Riewpassa (kiri) bersama dua petinju yang ikut Olimpiade 1976 di Montreal Kanada, Frans van Bronkhorst (Frans V.B) dan Syamsul Anwar Harahap. -dok kompas-

suaramaluku.com – Mantan “ratu” atletik Indonesia berdarah Maluku, Carolina Rieuwpassa meninggal dunia karena sakit yang dideritanya di RS Stella Maris Makassar, sekitar pukul 06.30 WITA, Kamis (16/3/2023).

Informasi yang diterima media ini dari salah satu kerabat almarhumah, Lessy Muskitta via telepon mengungkapkan, Carolina belakangan jatuh sakit karena sudah lanjut usia.

“Beliau sepupu dari ibu saya. Tadi pagi lami dapat info beliau telah tutup usia di RS Stella Maris setelah jalani perawatan,” ungkap Lessy, yang berprofesi sebagai musisi.

Menurutnya, keluarga masih belum tentukan jadwal pemakaman sang legenda atletik Indonesia tersebut.

“Belum tahu kapan pemakamannya. Rumah duka nya di kawasan Gunung Nona jalan Pattirosompe No 2 Makassar,” ujarnya.

Carolina lahir di Makassar Sulawesi Selatan pada 7 Februari 1949 dan saat wafat telah berusia 74 tahun. “Kami kehilangan figur yang hebat dan membanggakan,” kata Lessy.

Untuk diketahui, Carolina Riewpassa merupakan legenda atletik Indonesia. Ia atlet pembuat sejarah pelari cepat atau sprinter nasional yang bisa ikut even bergengsi olimpiade dua kali, yakni Olimpiade 1972 di Munich Jerman dan Olimpiade 1976 di Montreal Kanada pada nomor 100 dan 200 meter.

Almarhumah saat di masa jaya nya di lintasan atletik. -dok-

Selain itu, Carolina merupakan satu-satunya pelari putri Indonesia yang berhasil meraih dua medali perunggu di Asian Games yaitu pada Asian Games 1970 di Bangkok Thailand di nomor 100 dan 200 meter.

Almarhumah juga sukses berprestasi pada arena SEA Games 1977 di Kuala Lumpur Malaysia. Di nomor 100 meter ia merebut medali emas, sedangkan di 200 meter petoleh medali perak.

Prestasi Carolina yang akrab disapa Nina, bukan saja pada multi even. Namun ia juga meraih medali perak pada kejuaraan Asia 1975 dan kejuaraan terbuka lainnya.

Sedangkan di level nasional, pada era 1960 an hingga 1970 an, Carolina nyaris tak ada lawan. Itu terbukti, sprinter yang pernah mendapat undangan berlatih dari Federasi Atletik Jerman (Barat) itu tercatat pernah menjadi pemegang rekor nasional di nomor 100 meter, 200 meter, 400 meter, dan 4×100 meter.

Selain memegang rekor nasional beberapa nomor, almarhumah juga meraih medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) 1969, 1973, dan 1977. Lengkaplah prestasi spektakulernya.

Kejayaan Carolina di nomor lari jarak pendek Indonesia, menjadi warisan turun temurun bagi atlet-atlet nasional asal atau berdarah Malukiu di dunia atletik, seperti Emma Tahapary, Martha Lekransy, Emma Tahapary, Henny Maspaitella, Irene Joseph, Viera Hetharia, hingga terkini Alvin Tehupeiory.

Selamat jalan Carolina Riewpassa, sang legenda dan eks “ratu” atletik. Jasa dan prestasimu bagi bangsa dan negara tetap abadi dan dikenang. Beristirahatlah dalam kedamaian abadi. (NP)

No More Posts Available.

No more pages to load.