suaramaluku.com – Belasan tahun vakum kepengurusan, antara ada dan tiada, ibarat mati segan hidup tak mau, serta hanya berkutat dengan nostalgia kejayaan di masa lalu, klub Persatuan Sepakbola Ambon (PSA) Kota Ambon akhirnya resmi mulai diaktifkan lagi.
Momentum itu terjadi di Balaikota Ambon pada Kamis 25 September 2025, saat kepengurusan PSA Ambon periode 2025-2029 dilantik oleh Walikota, Bodewin Melkias Wattimena, setelah struktur organisasi vakum selama belasan tahun.
Kepengurusan tersebut sesuai dengan SK Walikota Ambon Nomor 2495 tertanggal 21 Juni 2025 tentang Pembentukan Pengurus Klub Persatuan Sepakbola Kota Ambon Periode 2025-2029.
“Momen ini sebagai tonggak sejarah kebangkitan PSA Ambon. Nama besar PSA harus dikembalikan, dengan pendekatan pembinaan usia dini. Mungkin PSA belum bisa ikut kompetisi, namun lewat pembinaan usia muda, diharapkan akan lahir pesepakbola unggul dari Kota Ambon,” ungkap Wattimena.
Walikota Ambon sendiri saat melantik itu secara ex officio merupakan Ketua Umum PSA. Hadir pula Ketua Harian KONI Maluku Sam Latuconsina dan unsur KONI Kota Ambon.
“Mari sama-sama katong kembalikan PSA Ambon Par Samua. Lebih baik memulai sesuatu, daripada tidak sama sekali,” ucap Walikota.
Hal senada disampaikan Ketua Harian PSA Ambon yang baru, Johan Lewerissa. Menurutnya, fokus program kepengurusannya adalah pembinaan pemain usia dini U-13, U-15 dan U-17.
“Kita mulai dengan pembinaan dari jenjang usia dini, muda, baru menyiapkan skuad senior. Juga benahi organisasi sesuai regulasi PSSI. Perlahan tapi pasti, kami ingin bangkitkan pamor dan nama besar PSA lagi,” tutur Lewerissa, yang juga jabat Wakil Ketua DPRD Maluku.
NOSTALGIA KEJAYAAN
Dalam sejarahnya, awalnya PSA Ambon adalah sebuah organisasi Bond Sepakbola sejak era kolonial hingga awal kemerdekaan, Amboness Voetball Bond. Kemudian dari bentuk Bond berubah jadi Persatuan Sepakbola Ambon.
Perjalanan kiprah PSA di era 1950 an hingga 1990 an, cukup berprestasi baik sebagai tim maupun kontributor individu pemain untuk tim PSSI atau kini tim nasional Garuda.
Sehingga saat kevakuman aktifitas organisasi dan ketiadaan tim PSA pada berbagai kompetisi, membuat pencinta sepakbola di Ambon hanya bernostalgia dengan “nama besar” yang pernah dimilikinya.
Dalam catatan penulis, fase jaman tim PSA wakili Maluku sudah berkiprah pada PON 1950 an di Jakarta dan Bandung dan kompetisi regional serta nasional.
Bahkan pada persiapan timnas Indonesia ke Olimpiade Melbourne 1956 dan Asian Games 1958, salah satu pemain PSA yakni penyerang Matheos Poetiray dipanggil ikut seleksi. Namun ia tidak masuk tim inti, karena ada striker andalan saat itu, Andi Ramang.
Tak sampai disitu saja. Pada tahun 1961, dua pemain muda PSA yaitu Notje Souisa (kiper) dan gelandang Nicky Poetiray masuk timnas junior ikut kejuaraan Asia di Bangkok, Thailand dan hasilnya Indonesia juara.
Selanjutnya, pada kompetisi Kejuaraan Nasional tahun 1964 di Stadion Utama Senayan (GBK), PSA bersama PSM Makassar wakili Indonesia Timur. Dari 9 tim peserta, PSA berakhir di posisi klasemen urutan 7.
4 tim besar yang berada di urutan teratas yaitu Persija, PSM, Persib, PSMS. Disusul Persebaya dan PSB Bogor. Sedangkan PSA berada diatas Persijem Jember dan PSP Padang.
Memasuki jaman 1970-an, pamor PSA sempat redup. Akibat banyak pemainnya hengkang ke Pulau Jawa serta munculnya kekuatan baru di wilayah timur, Persipura Jayapura.
Meski demikian, era 1970-an itu, nama PSA disegani lantaran striker andalan timnas Indonesia adalah Yakob Sihasale. Walau Yakob bersinar di Persebaya kala itu, tapi dia adalah jebolan skuad PSA Yunior tahun 1960-an.
Selain itu, juga muncul nama Bertje Matulapelwa dan bek kanan andalan timnas di era 1970 an – 1980 an; Simson Rumapasal, dan Yongki Kastanya. Ketiganya eks PSA dari klub Pusparagam, Bintang Timur dan Karpanior
Setelah lama kurang berkiprah di level nasional. PSA kembali muncul pada kejuaraan HUT PSSI ke-50 tahun 1982 dari jalur perserikatan.
Skuad PSA saat itu di penyisihan grup dengan PSP Padang dan PSB Bogor. Hasilnya PSA dan PSP lolos ke babak semifinal.
Di partai semifinal PSA kalahkan Persema Malang 2-0, PSP kalahkan Persija. Sayangnya, dalam final turnamen HUT PSSI 1982 di Stadion GBK itu, John Parinusa dan Ali Lilisula dkk kalah 2-3 dari PSP Padang.
Dari tim tersebut, lantas muncul nama-nama ke level nasional seperti Toni Tanamal, Ali Lisaholet, John Parinusa, Donny Poetiray dan lainnya. Serta juga, Aries Sainyakit, Robby Salakory, Yance Metmey, dan Yance Souhowat.
Eksistensi PSA di kompetisi sepakbola pasca 1982, tetap konsisten berprestasi di level Divisi I PSSI tingkat nasional pada era 1987 hingga 1991/1992.
Waktu itu, PSA nyaris lolos ke kompetisi elit perserikatan Divisi Utama saat masuk 4 Besar Divisi I Nasional PSSI 1987 di GBK Jakarta. Namun peluang PSA terganjal karena hanya dua tim yang promosi, sialnya PSA hanya duduki peringkat 3.
Hal yang sama terjadi pada edisi kompetisi 1991/1992, tepatnya 6 Besar Divisi I Nasional PSSI di Yogyakarta. Namun lagi-lagi PSA tidak beruntung. Karena meski memiliki poin sama dengan Persiraja dan PSIR Rembang, tetapi kalah selisih gol.
Di periode itu, muncul ke level nasional diantaranya Najib Assagaff, Willem Lokollo, kiper Husein Ongso, Sammy Pieter Kayadoe, Donny Nanlohy, Josef Papilaya, Charles Poetiray, Idris Karim dan lainnya.
Belakangan di masa pertengahan 1990 an, secara tim PSA mulai redup prestasinya. Namun eks para pemain yuniornya masuk ke level nasional dengan ikon striker nyentrik timnas Indonesia, Rochy Poetiray. Juga Reinold “Koko Pieters dan Zakarias Rumlus serta banyak lainnya yang tidak bisa ditulis semuanya.
Sedangkan selain pemain, di era 1980 – an hingga 2000 an, jebolan PSA juga mampu berkontribusi untuk persepakbolaan nasional. Diantaranya oleh Bertje Matulapelwa sebagai pelatih timnas, Daniel Tomasoa (Wasit) dan Dirk Soplanit yang berkiprah di PSSI.
Matulapelwa merupakan pelatih asli Indonesia paling sukses tangani timnas. Ia arsitek saat Indonesia meraih medali emas pertama SEA Games tahun 1987. Sebelumnya bawa Indonesia lolos 4 Besar Asian Games 1986 di Korea serta Juara Piala Kemerdekaan 1987.
Lalu Daniel Tomasoa yang merupakan kiper andalan PSA era 1970 an – 1980 an, ketika beralih jadi wasit jaman 1980 an – 1990 an dipercaya PSSI memimpin pertandingan baik di Perserikatan dan Galatama/Liga Indonesia.
Sedangkan figur Dirk Soplanit sangat berpengalaman dan dikenal luas komunitas sepakbola nasional. Ia adalah mantan Ketua Harian PSA, kemudian jadi Ketua Adprov PSSI Maluku.
Kiprahnya lalu melejit di level nasional, karena terpilih sebagai salah satu Anggota Executif Committe (Exco) PSSI selama dua periode. Tak sampai disitu saja. Soplanit juga dipercaya jadi Direktur PT Liga Indonesia Baru (LIB), operator kompetisi liga PSSI.
Dirk Soplanit jabat Exvo periode pertama (10 November 2016 – November 2020). Periode kedua (November 2019 – November 2023) serta sebagai Direktur PT LIB tahun 2019.
PENGURUS PSA 2025-2029
Kepengurusan baru PSA terdiri dari Dewan Pembina, Pelindung, Pengurus Harian serta Komite dan anggotanya.
Mereka terdiri dari mantan pembina, pengurus klub, pelatih, pemain, jurnalis dan unsur masyarakat pencinta sepakbola. Seperti Ir K. Pattinasarany dan Ch Tuhuleruw sebagai Pembina.
Mantan-mantan skuad PSA Ambon dalam kepengurusan diantaranya, Josie Latuperissa, Vicky Eykendrof, Robby Salakory, Jusuf Keliwawa, Mukhlis Mony, Semmy Maumayan, Morry Poetiray, Jhon Pattikawa, Marcel Tuapetel, Lucas Latuperissa dan lainnya.
Sebagai Ketua Umum PSA Ambon adalah Drs Bodewin M. Wattimena MSi, Ketua Harian nya Johan Johanis Lewerissa SH MH, Sekretaris nya Ferdinand Renyut S.Sos MSi MM serta Bendahara Vita Pattirajawane.
Komite-Komite yaitu Komite Organisasi dan SDM diketuai Jondri Pirsouw SE dan anggota. Komite Pembinaan dan Pelatihan dipimpin Jhon Pattikawa dan anggota. Komite Kompetisi dan Pertandingan diketuai Jantje Saija dan anggota.
Berikutnya, Komite Perwasitan diketuai Jantje Latuperissa dan anggota. Komite Pembinaan Usia Dini dan Usia Muda dipimpin Zeny Poetiray dan anggota. Komite Pendanaan dan Marketing diketuai Boy Lekipiouw dan anggota.
Komite Hukum dipimpin Dr Sherlock H. Lekipiouw SH MH dan anggota. Komite Keamanan diketuai Izack Risambessy dan anggota serta Komite Media dan Humas diketuai Drs Novi Pinontoan dan anggota. (NP)






