Ambon Sampai Kini Belum Miliki Sirkuit Balap, Sandi: Itu Impian Kita Semua

oleh -1,117 views
oleh
Para pembalap dan ofisial yang ikut pada balapan di sirkuit jalan lingkar Stadion Mandala Remaja Karpan. -dok-

suaramaluku.com – Olahraga otomotif khususnya balap motor di Kota Ambon dan sekitarnya, sejak tahun 1970 an sudah berkembang dan memiliki para pembalap berbakat serta potensial.

Itu terbukti sekitar awal tahun 1980 Ambon sudah memiliki para pembalap motocross. Bahkan saat itu, para kroser Ambon tampil dengan ketrampilan cukup baik, ketika menghadapi tim kroser dari Jakarta, Bandung, Surabaya pada eksibisi di Lapangan Merdeka Ambon.

Sirkuit dadakan di Lapangan Merdeka waktu itu, jadi saksi para kroser Ambon mampu adu ketangkasan dan teknik para kroser dari Pulau Jawa saat bermain “motor ball” maupun tantangan dan rintangan lainnya.

Para kroser dan pembalap Ambon saat itu seingat penulis, kini masih ada maupun yang sudah almarhum seperti Novi Tupamahu, Alex Wakano, Glen Malaihollo, Ubay dan lainnya. Kemudian muncul generasi dibawahnya Emphi Malaihollo, Welem Souhoka, Max Tupamahu, Richard Tuapatinaya, Wan Maligana dan lainnya.

Grup-grup otomotif legenda pun sempat berdiri di Ambon. Misalnya Van Boo Man, YOGIP, Virgin, Gipsy, ASCART, Aprilia, Beltoken dan lainnya.

Namun sayangnya. Meski dunia otomatif mulai semarak di Ambon sejak saat itu. Namun hingga kini di tahun 2023, Ambon belum memiliki satu pun sirkuit yang representatif untuk menyalurkan bakat generasi muda di bidang otomotif.

Seingat dan pengalaman penulis. Di tahun 1980 an hingga sebelum konflik sosial 1999, beberapa kawasan jalan dan lahan kosong sempat dijadikan arena sirkuit, baik untuk drug race, road race, maupun motocross seperti di kawasan Terminal Batumerah, jalan Diponegoro Urimesing, lahan di Kebun Cengkeh, Lateri, Telaga Raja maupun kini di kawasan Stadion Mandala Karangpanjang.

Bahkan sebelum lokasi-lokasi itu digunakan, para pecinta otomotif khususnya motor termasuk penulis, sudah gunakan lahan pengeringan pantai di Mardika (kini lokasi terminal, ruko dan pasar) untuk berlatih motocross maupun road race.

Nah, kalau kini, ada keinginan dari pembina Ikatan Motor Indonesia (IMI) Maluku yang juga sebagai Kepala Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora), Sandi Wattimena berupaya membangun sirkuit permanen di Ambon Maluku, tentunya patut diapresiasi.

“Kita akan terus berusaha mencari dan bekerja sama dengan pemerintah daerah tentunya untuk pengadaan lahannya dulu. Karena itu butuh lahan minimal 5 hektar,” kata Sandi, Senin (5/6/2023) seperti dikutip dari Antara.

Wattimena mengakui terkait sirkuit permanen di Maluku itu juga telah lama jadi keinginannya. “Sirkuit permanen itu idaman kita dari dulu. Semenjak jadi ketua harian empat tahun, kemudian 9 tahun jadi Ketua Umum Pengprov IMI, hingga posisi saya sekarang sebagai pembina, itu idaman kita dari dulu,” ujarnya.

Meski begitu, ia melanjutkan, permintaan tersebut dapat direalisasikan atau tidak tergantung ketersediaan anggaran. Mengingat, kondisi keuangan daerah belum stabil pasca pandemi COVID-19.

Apa lagi untuk membangun sirkuit permanen harus dibutuhkan lahan minimal lima hektar, dan tentu itu akan menguras anggaran yang besar.

“Kalau untuk kondisi Kota Ambon sekarang ini kan sudah sangat mahal, tapi tidak menutup kemungkinan kita berusaha untuk mencari lahan itu,” ungkapnya.

Wattimena meminta para pembalap ini untuk harus tetap bersabar karena pihaknya hanya bisa memanfaatkan jalanan umum untuk mengikuti ajang-ajang tingkatan daerah.

“Jadi kita harus bersabar dulu karena setiap kali ajang balap kita masih manfaatkan jalanan umum untuk dipakai seperti di Karang Panjang, Piru, dan Tual,” ucap Wattimena.

Sedangkan salah satu pembalap senior Ambon, Abdullah Marasabessy berharap, pemerintah daerah segera mengadakan sirkuit permanen.

“Semoga ada perhatian khusus dari pemerintah daerah untuk ada sirkuit permanen,” kata Marasabessy.

Ia mengaku, sejak menjadi pembalap dari 2005 hingga saat ini, sirkuit permanen yang selama ini diidamkan belum direalisasikan.

Pada akhirnya, sebagai pecinta otomatif di Ambon dan sekitarnya, kita berharap sirkuit representatif minimal untuk motor dapat diwujudkan, paling tidak untuk hindari balapan liar di jalanan dan menciptakan pembalap yang profesional di sirkuit, bukan di jalan raya. Semoga ! (novi pinontoan)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.