Jelang AG 2026, Kenang Prestasi Hebat Wiem Gommies di Cabor Tinju

oleh -71 views
oleh

suaramaluku.com – Pesta Olahraga Antar Bangsa di benua Asia atau Asian Games (AG) tahun 2026 akan diadakan di Prefektur Aichi dan Kota Nagoya, Jepang, dari tanggal 19 September hingga 4 Oktober 2026.

Kontingen Indonesia membawa 432 atlet yang turun di 35 cabang olahraga (cabor) dari total 43 cabor yang dipertandingkan pada pesta olahraga Asia tersebut.

Khusus untuk cabor tinju AG 2026, tim Indonesia membawa lima petinju terdiri dari tiga putra dan dua putri. Mereka merupakan peraih medali SEA Games 2025 di Thailand.

Petinju putra yakni Vicky Tahumil Junior, Asri Udin, dan Maikhel Roberrd Muskita. Serta petinju putri diwakili Nabila Maharani dan Huswatun Hasanah.

Terkait dengan multi event AG 2026 di Jepang ini, khusus untuk cabor tinju, Indonesia pernah melahirkan petinju legendaris Asia yang punya prestasi hebat, bernama Wilhem Gommies atau punya nama ring Wiem Gommies.

Wiem Gommies, berasal dari Negeri Hatalai, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, Provinsi Maluku. Ia lahir pada 31 Oktober 1945 atau kini sudah berusia 80 tahun dan masih hidup di kampung halamannya.

Prestasinya di kelas menengah (75 kg) untuk harumkan nama Maluku dan Indonesia, nyaris sempurna. Semua jenjang dari daerah, nasional, ASEAN, Asia, hingga kejuaraan dunia dan Olimpiade sudah diraihnya.

“Itu semua diraih dengan disiplin, tekun, latihan kontinyu dan jangan merasa sudah hebat. Yang utamanya juga, takut Tuhan,” ungkap Wiem yang terkenal rendah hati, kepada media ini beberapa tahun lalu.

Diakuinya, mengenal tinju agak terlambat. Ia sudah berusia 20-an tahun barulah mulai berlatih tinju di akhir 1960-an di sasana pelatih legendaris, Teddy van Room, di kawasan Belakang Soya, Kota Ambon.

Setelah jadi juara daerah. Wiem masuk tim tinju Maluku untuk pertama kalinya ikut PON VII tahun 1969 di Surabaya. Ia bikin kejutan dengan merebut medali emas kelas menengah ringan. Itu satu-satunya emas untuk Maluku. Dari situlah dia jadi petinju besar Indonesia.

Di level nasional baik Kejurnas, PON atau Sarung Tinju Emas (STE), Wiem tidak ada lawan sebanding lagi. Ia lebih banyak disiapkan PB Pertina fokus ikut kejuaraan internasional.

PRESTASI ASIA

Setelah tampil sebagai juara PON VII 1969 di Surabaya, Wiem Gommies direkrut masuk Pelatnas persiapan Asian Games VI tahun 1970 di Bangkok, Thailand.

Hasilnya, luar biasa. Pertama kali tampil di level Asia, Wiem buat kejutan dengan meraih medali emas di kelas menengah (75 kg) AG 1970 setelah mengalahkan petinju Arif Malik dari Pakistan di partai final.

Saat itu, tim tinju Indonesia merebut 1 emas dari Wiem Gommies dan 3 perunggu dari Ferry Moniaga (51 kg), Idwan Anwar (54 kg), Jootje Waney (60 kg) dan Rudy Siregar (81 kg).

Setahun kemudian, Wiem Gommies dikirim ikut Kejuaraan Asia V tahun 1971 di Teheran, Iran. Kembali lagi ia sukses meraih emas. Di partai puncak, Wiem kalahkan petinju tuan rumah Iran, Masoud Keshkiri dengan KO pada ronde 2.

Sebagai juara Asia, Wiem meraih tiket untuk level Olimpiade, yaitu Olimpiade XX tahun 1972 di Munich, Jerman. Namun dia kalah dari petinju Uni Soviet, Vyacheslav Lemeshev yang akhirnya merebut medali emas.

Delapan tahun setelah meraih emas AG 1970. Wiem kembali sukses harumkan nama Indonesia di arena tinju AG 1978 di Bangkok, setelah di final mengalahkan petinju Korea Utara, Chang Bon-Mun (atau Jang Bong-mun), dengan skor 3-2 di kelas menengah (75 kg).

Perolehan Tim Tinju Indonesia di AG 1978 adalah 1 Emas dari Wiem Gommies (75 kg), 1 Perak dari Johnny Riberu (51 kg), serta 2 Perunggu dari Benny Maniani (81 kg) dan Krismanto (+81 kg).

Prestasi Wiem di level Asia lainnya adalah meraih medali perunggu kelas menengah Kejuaraan Asia VI tahun 1973 di Bangkok, Thailand.

Selain itu, Wiem meraih medali perak kelas menengah Kejuaraan Asia VII tahun 1977 di Jakarta.

Untuk level Asia Tenggara pada SEA Games tahun 1977 di Kuala Lumpur, Malaysia, Wiem juga meraih medali emas kelas menengah.

Sedangkan pada SEA Games tahun 1981 di Manila, Filipina, Wiem meraih medali perak di kelas yang sama.

Untuk level turnamen terbuka bergengsi internasional seperti Piala Presiden RI (President Cup) di Jakarta, Wiem Gommies juga berprestasi meraih medali emas kelas menengah Piala Presiden I 1976 dan medali perak di Piala Presiden III 1978.

Sementara itu, prestasi Wiem Gommies untuk level nasional, yakni juara kelas menengah ringan PON VII 1969, juara kelas menengah PON VIII 1973 dan tahun 1981 juara kelas menengah PON X.

Sedangkan untuk Kejuaraan Nasional (Kejurnas), Wiem juara tak terkalahkan dari tahun 1970, 1971, 1974, 1975, 1976 dan tahun 1980. Kemudian juga juara kelas menengah Sarung Tinju Emas (STE) 1979.

Setelah menjuarai PON 1981, Wiem lalu memilih undur diri dari ring tinju. Ia tetap mengabdi di cabor yang besarkan nama besarnya dengan beralih jadi pelatih Pertina Maluku dan PPLP Tinju Maluku, sempat juga melatih di Pelatnas.

Untuk diketahui, selama tim tinju Indonesia ikut Asian Games, hanya dua petinju yang sukses meraih medali emas. Selain Wiem Gommies, juga ada Pino Bahari tahun 1990 di Beijing China pada kelas nenengah (75 kg).

Waktu itu, perolehan medali tim tinju Indonesia adalah 1 emas dari Pino Bahari (75 kg) serta 2 perunggu dari Franky Mamuaja (54 kg) dan Hendrik Simangunsong (71 kg). (NP)

No More Posts Available.

No more pages to load.