GPM 90 Tahun: Dari Era Kolonial, Kemerdekaan, Orla, Orba, Reformasi Hingga Digital

oleh -1,063 views
oleh

suaramaluku.com – Hari ini, Selasa 6 September 2025, Gereja Protestan Maluku (GPM) memasuki usia 90 tahun. Ini terjadi setelah tahun 1935 di Kota Ambon, GPM berdiri sebagai gereja yang mandiri dalam bidang konfesi, liturgi dan keuangan.

GPM terlepas dari gereja di masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang dilayani oleh Gereja Protestan di Indonesia (GPI) dan Nederlandsch Zendeling Genotschaap (NZG) serta daerah pelayanannya telah meliputi hampir seluruh Maluku (termasuk Maluku Utara).

Moto GPM adalah sebagaimana tertulis dalam firman Allah di Alkitab pada I Korintus 3 : 6. “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan”.

Dalam perjalanannya hingga kini, GPM telah lalui banyak lintasan sejarah yang panjang dan “badai” tantangan pelayanan jemaat pada beberapa era yang sulit.

Situasi dan kondisi tantangan itu, mulai dari masa kolonial/penjajahan, perang dunia kedua, pemberontakan RMS, peralihan kekuasaan orde lama ke orde baru, konflik horizontal umat beragama hingga orde reformasi dan demokratisasi, digitalisasi dan wabah pandemi global Covid 19.

Untuk diketahui wilayah pelayanan GPM mencakup wilayah Provinsi Maluku (Pulau Buru, Pulau Seram, Pulau Ambon, Pulau-pulau Lease (Saparua, Haruku dan Nusalaut), Pulau-pulau Banda, Kepulauan Kei, Kepulauan Aru (Dobo), Tanimbar, Babar, Leti-Moa-Lakor, Kisar hingga Wetar, dan Provinsi Maluku Utara (Ternate, Pulau-pulau Bacan, Pulau-pulau Obi, dan Kepulauan Sula) .

Dalam kaitan dengan HUT ke-90 nya tahun 2025, GPM kali ini mengusung tema yakni “Gereja yang Menabur, Bertumbuh dan Berbuah karena Kasih Tuhan (Markus 4:1-9)”.

Ketua Sinode GPM, Pdt Elifas T. Maspaitella STh MSi dalam satu kesempatan mengatakan, sejarah GPM selalu menceritakan bahwa kita membawa suara Injil yang membebaskan dan memanusiakan, karena 6 September 1935 menjadi tonggak iman untuk memproklamasikan kebebasan dalam bentuk keterlepasan dari dominasi pemerintah Hindia Belanda.

Suatu spirit keagamaan yang menunjukkan bahwa orang percaya hanya bergantung kepada Tuhan dan hidup dari berkat Tuhan.

Itulah sebabnya dalam tiap babakan sejarahnya, GPM selalu bermisi di tengah masyarakat, bangsa dan di tengah dunia, karena itu pula di alam semesta pemberian Tuhan ini.

Kita sadar bahwa dalam masalah yang berat sekalipun, baik internal, seperti pada 1960 di mana lahirnya Pesan Tobat GPM, atau dalam hiruk pikuk di tengah bangsa, pada 1950 atau 1999, GPM tetap pada pendiriannya menjadi gereja yang menghadirkan pembebasan dan perdamaian.

Malah bertubi-tubi dihantam bencana alam sampai pandemi Covid-19, GPM tetap menjadi gereja dengan berusaha hadir lebih dahulu dan selalu mencerahkan pemahaman umat, menumbuhkan harapan, memulihkan kondisi hidup individu dan sosial, memastikan bahwa Tuhan ada dan tetap bekerja di dalam dan melalui gerejaNya.

Semua itu terjadi dan kita lakukan karena yakin, Tuhan selalu menunjukkan kebajikan dan kemurahan hatiNya kepada kita, karena Ia tetap menemukan kita sebagai gerejaNya dan memakai kita untuk menuntun semua dombaNya.

Sebagaimana diketahui, salah satu momen “badai” yang dialami GPM, adalah ketika perang dunia kedua antara sekutu dan Jepang sehingga kota Ambon dibombardir bom serta pertempuran berantas gerakan RMS oleh TNI, akibatnya gereja pusat pertama atau Protestant Kerk di jalan A.Y. Patty terbakar dan hancur.

Lantaran itu, Presiden pertama RI Ir Soekarno membangun gereja pusat pengganti dan memindahkan ke lokasi saat ini di jalan Pattimura.

Peletakan batu pertama pembangunannya oleh Presiden Soekarno pada 6 September 1952 serta diresmikan dan digunakan pertama kali tanggal 9 Mei 1954. Kemudian direnovasinya lagi menghabiskan APBD Maluku tahun 2012 dan 2013 sebesar Rp 9,47 miliar di masa Gubernur Maluku, Karel Ralahalu.

SEJARAH SINGKAT

GPM merupakan salah satu gereja di Indonesia yang beraliran Protestan Reformasi atau Calvinis. GPM berdiri di Ambon pada 6 September 1935. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai hari kelahirannya. GPM memandirikan dirinya dari Gereja Protestan di Indonesia (GPI) atau Indische Kerk dan Nederlandsch Zendeling Genotschaap (NZG) sebagai bentuk kemandirian gereja.

Cikal bakal lahrnya GPM memiliki sejarah sangat panjang sesuai berbagai sumber referensi. Secara singkat, diawali pada 27 Februari 1605, GPM berawal dari ibadah perdana Gereja Protestan Calvinis dari orang-orang Belanda, pegawai VOC di Ambon yang bertempat di dalam ruangan Benteng Nieuw Victoria.

Pada tahun 1622, Majelis Jemaat Indische Kerk dibentuk pula di Banda setelah 1621 didirikan di Batavia (Jakarta), yang berdampak aktivitas penginjilan di wilayah Maluku pun mulai kian marak dan intens dilakukan, khususnya melalui peran Pendeta Adriaan Hulsebos, yang telah berupaya membuat pelayanan ke Ambon namun kapalnya tenggelam di Teluk Ambon, dia meninggal.

Misinya dilanjutkan oleh Pendeta Rosskot (yang selanjutnya pula berperan dalam menyelenggarakan Pendidikan Teologi pertama di Ambon, Maluku maupun Indonesia).

Tahun 1799:, setelah VOC dibubarkan, maka ada sejumlah jemaat di Indonesia yang telantar, termasuk beberapa jemaat di Ambon.

Pada masa tahun 1815-1833: Joseph Kam diutus ke Maluku oleh Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG). Kemudian tahun 1871, Joseph Kam mendata jemaat-jemaat di Ambon

Tahun 1930, gereja terus berkembang pada masa pemerintahan Hindia Belanda yang dilayani oleh Gereja Protestan di Indonesia (GPI) dan Nederlandsch Zendeling Genotschaap (NZG) dan daerah pelayanannya telah meliputi hampir seluruh Maluku.

Akhirnya tahun 1935, tepatnya tanggal 6 September: GPM berdiri sebagai gereja yang mandiri dalam bidang konfesi, liturgi dan keuangan

Di tahun 1950, terjadi penumpasan RMS oleh TNI di Kota Ambon dan wilayah Pulau Seram yang mengakibatkan banyaknya gedung gereja ikut terbakar.

Dan pada tanggal 25 Mei 1950, GPM menjadi anggota PGI (dulu DGI). Wilayah pelayanannya mencakup Provinsi Maluku dan Maluku Utara.

Selamat Hari Jadi GPM yang ke-90. Tuhan Yesus menyertai dan memberkati semua pelayan dan jemaat dari sinode sampai ke pelosok-pelosok negeri. (novi pinontoan)

No More Posts Available.

No more pages to load.