Memori Tinju PON 1977, Kacau Akibat David Matita vs Syamsul Anwar, Eddy Gomies Diteriaki Pengkhianat

oleh -5,218 views
oleh
Tim tinju Maluku di PON IX tahun 1977 di Jakarta dan Eddy Gomies petinju asal Ambon yang perkuat DKI Jaya waktu itu. -dok pribadi-

CERITA DUA SAKSI MATA

Atas memori insiden tersebut, dua petinju Maluku dan DKI yang menjadi saksi mata pertarungan itu, Herry Maitimu dan Eddy Gomies yang dihubungi media ini, Sabtu (25/9/2021) menyampaikan kenangan sesuai versi mereka.

Menurut Eddy Gomies, pukulan tangan kiri Syamsul Anwar memang mengarah ke arah perut batas dengan area terlarang. Namun penonton dekat ring menilai pukulannya sudah ke arah bawah perut yang masuk kategori pelanggaran.

“Pukulan Syamsul mendarat ke arah perut. Tapi penonton pendukung Maluku di pinggir ring menilai lain. Meteka protes wasit. Suasana jadi kacau. Kursi-kursi terbang di atas ring he he,” cerita Eddy, yang saat itu menjadi pembantu lalu Syamsul Anwar di sudut ring.

Eddy mengungkapkan, meskipun dirinya juga berasal dari Ambon tapi main untuk DKI, dia serba salah dan juga rasa takut karena pendukung Maluku banyak.

“Wah suasana kacau balau. Apalagi beta diteriaki pengkhianat, jual daerah. Waduh rasa gimana. Kita akhirnya amankan diri dari emosional penonton,” ungkap Eddy, tertawa ingat dirinya diteriaki jual daerah.

Ia sendiri waktu itu bertarung di kelas bulu dan sudah menang di semifinal. Akibat insiden tersebut, 5 petinju DKI yang lolos ke final mengundurkan diri untuk hindari kejadian terulang.

Lima petinju DKI yang undur diri di final yaitu Ronny Sarimole (layang), Eddy Gomies (bulu), Syamsul Anwar (welter ringan), Frans VB (welter) dan Wiem Gomies (menengah).

“Waktu itu Gubernur DKI pak Ali Sadikin perintahkan panitia gelar partai final siang hari tanpa penonton. Tapi demi keamanan tim tinju DKI undur diri di final,” beber Eddy, yang kemudian beralih ke tinju pro, sedangkan kakaknya Wiem Gomies memilih kembali ke Ambon.

Baca Juga: Josef Muskita, Took Maluku yang Jadi Atlet Olimpiade Pejuang Jenderal Dubes dan Sekretaris Wapres

Sementara itu, Herry Maitimu yang kini jadi pelatih tinju Jambi ke PON Papua, menuturkan kisah senada dengan Eddy. Namun ia lebih jeli ingat peristiwa itu.

“Pukulan Syamsul Anwar memang mengarah ke perut. Namun seingat saya, penonton Maluku marah, karena pukulan Syamsul dilepaskan ketika wasit sedang break atau perintah pisahkan kedua petinju. Nah itu sebabnya penonton marah, protes dan mengamuk. Apalagi David Matita tidak bisa lanjutkan pertarungan, wah kacau balau deh he he,” kenang Herry.

Sejatinya, di partai final Herry Maitimu dari Maluku akan bertemu Ronny Sarimole dari DKI di final. Pertemuan keduanya itu sekaligus untuk menobatkan siapa raja kelas layang Indonesia. 

Pasalnya, Ronny adalah petinju senior berpengalaman, sedangkan Herry merupakan petinju muda yang lagi menanjak di arena nasional. Pertemuan pertama keduanya di partai final Sarung Tinju Emas (STE) I di Ambon. Herry yang masih muda mampu kalahkan Ronny.

“Yah karena di final DKI undur diri. Beta dan Ronny tidak jadi bertanding. Beta meraih emas pertama di PON 1977 itu. Kalau ketemu pasti ramai lagi. Apalagi penonton di semifinal waktu itu teriak tunggu katong balik di final ha ha,” tutur Herry, tertawa.

Persaingan Herry dan Ronny Sarimole terulang empat tahun kemudian di partai semifinal PON X 1981. “Beta kalahkan dia lagi. Di final beta menang atas Azhadin Anhar dari Aceh. Itu emas kedua beta untuk Maluku di PON,” ujarnya, sambil ingat tinju Maluku berjaya dengan 7 emas, 1 perak dan 2 perunggu di PON 1981.

Alhasil, di cabang tinju PON 1977, Maluku meraih dua emas dari Herry dan Beni Keliombar serta dua perunggu. Herry kemudian setelah PON 1981 pindah ke Jambi dan sumbangkan dua emas lagi untuk Jambi di PON 1985 dan 1989.

Baik Eddy maupun Herry, berharap tinju Maluku bisa bangkit kembali seperti era 1970 an hingga 1990 an. “Yah, semoga Maluku bisa sukses di PON,” kata keduanya, senada. (novi pinontoan)

No More Posts Available.

No more pages to load.