PENGAWAL LEIMENA
Selesai bertugas dalam operasi Trikora, Karel kembali ke satuannya di Kedunghalang Bogor. Ia juga dinaikkan pangkatnya jadi Brigadir Polisi pada 1 November 1963.
Setelah itu, ia mendapat tugas untuk pengamanan/pengawalan Wakil Perdana Menteri (Waperdam) II, Dr J. Leimena di kediamannya jalan Teuku Umar, kawasan Menteng Jakarta.
Di rumah Dr Leimena inilah terjadi peristiwa G30S PKI yang menyebabkan gugurnya Karel Satsuitubun pada malam 30 September 1965. Rumah Leimena berdekatan dengan kediaman Menteri Pertahanan dan Keamanan/Kepala Staf ABRI waktu itu, Jenderal A.H. Nasution.
Tengah malam menjelang pagi 1 Oktober 1965, Karel bersama dua rekannya yakni Pelda Pol Lubis dan Peltu Pol Lussy, yang sedang bertugas di pos jaga kediaman Dr Leimena, dikagetkan datangnya sebuah truk yang menurunkan pasukan tentara Cakrabirawa.
Singkat cerita. Pasukan itu ternyata bagian dari skenario G30S PKI dalam operasi penculikan para jenderal, termasuk Jenderal AH. Nasution, maka pertama-tama mereka berusaha untuk melumpuhkan kelompok pengawal di rumah Dr. J. Leimena.
Akibatnya, Karel Satsuitubun dan dua rekannya siaga. Insiden baku tembak pun tidak terelakan. Karel yang sudah terkena tembakan, sempat pula menembak salah satu anggota pasukan tersebut, namun ia akhirnya meninggal di halaman rumah Waperdam II Dr Leimena.
Sedangkan dua rekannya lolos dari peristiwa itu. Kemudian pasukan gerombolan tersebut pergi setelah memberondong rumah Jenderal A.H. Nasution. Tetapi Nasution serta Dr J. Leimena selamat dari aksi penculikan dan pembunuhan itu.
Meskipun Jenderal Nasution selamat karena sempat meloloskan diri dengan cara melompat pagar di bagian belakang rumahnya saat diberondong tembakan, namun anaknya Ade Irma Suryani Nasution menjadi korban terkena tembakan dan meninggal dunia.
Atas peristiwa perlawanannya kepada gerombolan G30S PKI serta pengabdiannya kepada bangsa dan negara, maka berdasarkan Surat Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Koti tanggal 5 Oktober 1965 Nomor 114/Kori/1965 menganugerakan pangkat Ajun Inspektur Polisi II (Aipda) Anumerta dan gelar Pahlawan Revolusi pada almarhum Karel Satsuitubun.
Kini nama Karel Satsuitubun harum, dikenang atas perjuangan dan pengabdiannya kepada negara. Namanya diabadikan pada nama jalan, kapal perang dan bandara. Orang Maluku bangga pada perjuangan sang pahlawan. Almamaternya SPN Passo dan Brimob Polda Maluku pun layak berbangga pernah melahirkan pahlawan bangsa.
Tenanglah di sana sang pahlawan dalam kedamaian abadi. Jasa dan dedikasimu dikenang sepanjang masa. (novi pinontoan)








