77 Tahun Maluku, Kenang Latuharhary Sang Pengusul Istilah Provinsi

oleh -11,347 views
oleh
Gubernur Maluku pertama, Mr Johanes Latuharhary (jas putih) dampingi Presiden RI pertama Ir Soekarno saat berkunjung ke Ternate. -dokumen-

Untuk meyakinkan pendapatnya, Latuharhary menemui Moh Hatta di rumahnya. Ia menyatakan suatu dasar negara kebangsaan jangan dimasukan unsur-unsur keagamaan. Bila itu dipaksakan pergolakan bisa kembali terjadi di wilayah Indonesia Timur. Akhirnya pemikirannya diterima sesuai kondisi bangsa waktu itu, setelah Moh Hatta berkonsultasi bersama tokoh-tokoh islam nasionalis.

Dua usulannya yang dipending pembahasannya namun kemudian tidak diterima adalah penolakannya atas pembentukan Kementerian Agama. Ia berpendapat agama tidak harus diurus oleh negara dalam bentuk kementerian, namun cukup dengan satu biro/badan dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Serta usulan bentuk negara adalah federal juga dianulir Soekarno.

Kiprah dan kontribusinya pada bangsa ini melalui BPUPKI, PPKI, KNIP hingga jadi anggota delegasi Indonesia pada Konfetensi Meja Bundar (KMB), Perjanjian Reenvile, Linggarjati, Perjanjian Roem-Royen dan turut ikuti Sidang Badan Keamanan PBB di New York. Membuat Pemerintah RI anugerahkan bintang jasa Maha Putera Utama untuknya, kemudian abadikan namanya pada nama kapal kargo dan jalan di kawasan Menteng Jakarta. Beliau juga dikenal sebagai perintis kemerdekaan yang menjunjung kemajemukan bangsa.

Sayangnya, Latuharhary yang dikenal sangat jujur, teguh berprinsip dan disiplin, meninggal dunia tahun 1959 di Jakarta dalam kondisi sangat sederhana sehingga untuk perawatannya saja beliau kesulitan ekonomi.

Namun demikian, negara akhirnya mengakui perjuangan dan jasanya sehingga Latuharhary dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata Jakarta. Saat itu, sahabatnya sesama berjuang di Jong Ambon yakni Dr Johanes Leimena yang sempat menjadi Penjabat Presiden RI dan Menteri Kesehatan memberikan sambutan ketika pemakamannya.

Sikap kepemimpinan dan jiwa nasionalisme Latuharhary dalam perjuangan Indonesia, sempat menjadi bahan kajian peneliti luar negeri serta pujian dari rekan seperjuangannya.

Misalnya sejarawan Australia Richard Chauvel menulis, bahwa Latuharhary adalah “Pemimpin Ambon pertama yang merumuskan argumen untuk dimasukkannya Ambon dalam Indonesia merdeka dan menganggap orang Ambon sebagai orang Indonesia”.

Selain itu, penerusnya sebagai Gubernur Maluku ketiga, Muhammad Padang pernah menulis tentang Latuharhary. Ia menyebut “Latuharhary bisa saja dilawan secara politis, namun mengenai perjuangannya, kejujuran dan patriotismenya jarang ditemukan”. Padang juga memuji Latuharhary yang mendirikan fondasi pemerintahan di Maluku selama masa-masa sulit pemberontakan RMS.

Begitulah sejatinya seorang pahlawan, pemimpin, leader. Yang lebih memikirkan bangsa, rakyat, orang banyak. Bukan keluarga dan kroninya. Salut dan bangga untukmu Mr Latuharhary. Jasamu dikenang dalam arsip sejarah negeri ini.

Beta membayangkan alangkah eloknya kalau di pintu masuk Kantor Gubernur Maluku kini, terpajang patung setengah badan Mr Latuharhary sebagai wujud penghormatan untuk tokoh bangsa dan pengusul kata Provinsi digunakan resmi bagi nama pemerintah daerah di Indonesia.

Selamat Hari Jadi Provinsi Maluku ke-77 (19 Agustus 1945 – 19 Agustus 2022). (novi pinontoan/berbagai sumber).

No More Posts Available.

No more pages to load.