Tiga Petinju Maluku Siap “Baku Pukul” Rebut Tiket Semifinal PON Papua, Ramli Umasugi Apa Kabar?

oleh -4,381 views
oleh

MINTA KEPEDULIAN

Sementara itu, secara terpisah kepada media ini, seorang penggemar tinju di Ambon yakni Thomas B yang selalu ikut perkembangan para petinju daerah ini, meminta kepedulian dan perhatian dari Ketua Pengda Pertina Maluku, Ramly Umasugi agar meluangkan waktu dan keseriusan membina dan melihat perjuangan para petinju di PON.

Pasalnya, selama Pelatda PON di Ambon dan keberangkatan tim tinju Maluku ke Jayapura, ia mendapat informasi dan keluhan bahwa Ketua Pertina Maluku terkesan tidak peduli dengan para petinju dan pelatih yang sedang berlatih keras.

“Miris. Tinju Maluku yang selalu angkat nama daerah dan punya tradisi emas di PON. Malah seperti anak ayam kehilangan induknya. Yah kalau pak Umasugi tidak serius bina tinju, sebaiknya mengundurkan diri dan berikan mandat ke orang lain,” beber Thomas.

Menurutnya, pamor dan prestasi tinju Maluku menurun jauh dibawah pimpinan Ramli Umasugi yang saat ini menjabat Bupati Buru dua petiode.

“Buktinya. Banyak petinju potensial Maluku pindah ke daerah lain jelang PON. Juga yang lolos ikut PON cuma empat petinju. Ini jumlah paling sedikit selama beberapa PON belakangan. Empat petinju itu pun semuanya sudah senior. Sebagai pencinta tinju Maluku, beta kasihan lihat sikon begini,” ungkapnya.

Untuk diketahui, tinju Maluku sudah berpartisipasi di PON sejak tahun 1950 an pada PON Bandung. Disitulah lahirlah petinju nasional Frans Soplanit yang kemudian jadi top Indonesia di era nya.

Lalu di PON 1969 Surabaya, lahirlah legenda tinju amatir Indonesia dan Asia yakni Wiem Gomies. Satu-satunya emas Maluku di PON tetsebut berasal dari Wiem Gomies setelah di final kelas menengah ringan pukul KO Said Fidal dari DKI. Padahal waktu itu Said Fidal adalah jawara nasional.

Sesudah itu pada setiap PON, para petinju Maluku langganan tetap berikan emas sehingga sudah tradisi dan selalu melahirkan legenda-legenda tinju Indonesia di kelasnya masing-masing.

Selain Wiem Gomies, munculah Herry Maitimu, Elly Pical, Charles Thomas, Lutfy Mual, Notje Thomas, Jeffry Manusama, Max Auty, Polly Pesireron, Beni Keliombar, Nico Thomas, Apeles Letty, Matheos Lewaherila, La Ata, Vence Patty, Rudi Haurisa, Albert Papilaya, La Paene Masara, Mekson Barataman, Bara Gomies, David Isikiwar, Thomas Keliombar, Lodewyk Batlajery, Panzer Pattinama dan masih banyak yang lainnya, serta era petinju putri Welmy Pariama, Ester Kalayukin, Yuliana Patty dan lainnya.

Mereka-mereka itulah tulang punggung tim tinju Maluku di PON, juga tim Indonesia di SEA Games, Asian Games, Olimpiade hingga akhirnya dua orang menjadi petinju profesional pertama dan kedua Indonesia yang menjadi juara dunia yaitu Ellyas Pical dan Nico Thomas.

Kemudian satu juara Asia Pasifik (OPBF) kelas menengah yakni Polly Pesireron dan pemegang rekor dua kali medali Asian Games 1970 dan 1978 adalah Wiem Gomies serta peraih enam medali emas SEA Games, Albert Papilaya.

Tiga petinju Maluku diantaranya yang pernah merasakan arena ring Olimpiade adalah Wiem Gomies (Munich Jerman 1972), Albert Papilaya (Barcelona 1992) dan La Paene Masara (Sidney 2000). (novi pinontoan)

No More Posts Available.

No more pages to load.