Reputasi Cabor Maluku yang Hilang Pamor di PON Papua, Apa Saja ?

oleh -7,870 views
oleh

EVALUASI PEMBINAAN DAN REGENERASI

Untuk PON ke depan, KONI dan Pemprov Maluku melalui Dinas Pemuda dan Olahraga, sudah harus mengevaluasi Pengprov-Pengprov dan pembinaan pada cabor yang pernah punya pamor dan sumber medali bagi daerah ini di berbagai even nasional.

Seperti taekwondo dan anggar misalnya. Pembenahan organisasi Pengprov IKASI dan pembinaan atlet sudah harus menjadi perhatian serius. Begitu pula taekwondo yang redup prestasinya. Bahkan hilang nama besarnya sebagai cabor andalan.

Bersyukur bahwa dayung pada tiga kali PON terakhir tetap konsisten dalam pembinaan dan menjaga prestasi. Yang perlu diseriusi adalah cari pengganti Chelsea Corputty dan La Memo karena sudah senior. Juga mestinya jangan terpaku pada nomor rowing, namun mulai genjot nomor kayak pula.

Cabor muaythai dan kempo sebagai olahraga yang mulai diandalkan, juga perlu dibina atlet-atlet muda ke depan. Karena yang saat ini sudah senior dan tidak muda lagi untuk bersaing.

Untungnya Muaythai ada raih dua perunggu dan kempo satu perunggu. Karate juga meski belum naik pamornya namun masih peroleh satu perunggu di PON Papua.

Yang perlu dipikirkan juga. Regenerasi atlet di cabor tinju. Olahraga yang sudah angkat nama Maluku sejak PON 1950 an ini, mulai predikat tradisi emas di PON 1969 Surabaya oleh petinju legendaris Indonesia bahkan Asia, Wiem Gomies. Malah pada PON 1981 tinju Maluku dominasi meraup 7 emas dan 1 perak.

Pasalnya, meski di PON Papua ini, tradisi emas dipertahankan dengan perolehan satu emas, satu perak dan satu perunggu, namun empat petinju Maluku yang berlaga sudah senior, terutama petinju putri Welmy Pariama yang akan undur diri.

Kondisi yang tidak berbeda jauh juga terjadi pada cabor unggulan atletik. Atletik dan tinju bagi Maluku adalah olahraga “tradisional” yang sudah jadi ikon. Namun sayangnya, masih andalkan atlet-atlet senior dan berpengalaman.

Khusus atletik. Juga sudah harus memikirkan jangan berharap pada nomor lari saja. Sebab, cabang ini adalah yang terbanyak menyediakan medali, sebab selain lari juga ada nomor lempar, tolak, loncat, lontar dan lainnya.

Maluku selama ini hanya andalkan pada spesialis lari khususnya jarak pendek dan menengah. Padahal ada juga banyak nomor jarak jauh yang dilombakan.

Terakhir dan paling aneh. Meski sebagai provinsi kepulauan, namun KONI Maluku tidak melirik untuk mensuport pembinaan pada cabor renang. Pengprov PRSI juga kurang aktif. Padahal olahraga sangat potensial dibina sesuai karakter wilayah perairan dan kepulauan.

Kenapa harus lirik renang jadi prioritas sejak kini? Sebab sama dengan atletik, merupakan dua cabor yang terbanyak menyediakan medali. Ada puluhan nomor yang dilombakan dan menjadi “lumbung” medali bagi daerah lain.

Hal-hal itulah yang harus jadi bahan evaluasi ke depan. Pemprov, KONI dan Pengprov-Pengprov cabor supaya jangan terpaku pada rutinitas atau berharap pada yang sudah ada. Perlu inovasi, kreatifitas dan visi pembaruan ke depan, di tengah persaingan yang makin ketat.

Pasalnya terbukti. Dari PON ke PON hanya mengandalkan tinju, atletik dan dayung. Sedangkan taekwondo dan anggar yang awalnya juga punya pamor akhirnya redup dalam hingar bingar kompetisi nasional. Mulai sekarang berbenahlah. Semoga ! (novi pinontoan)

No More Posts Available.

No more pages to load.