Refleksi Paskah GPM 2022; Itu Adalah Kuasa yang Menghidupkan

oleh -15,019 views
oleh
Pdt Elifas Tomix Maspaitella STh, Ketua MPH Sinode GPM

Ia tidak pernah mengalami kesembuhan sebagai dampak dari penderitaan ekonomi (miskin), karena itu tidak miliki akses pengobatan yang layak. Juga memiliki keterbatasan dalam pergaulan sosial sebab jenis penyakit itu telah dikategorikan sebagai yang cemar/najis dalam hukum Yahudi (bd. Imamat 15:25-33).

Berdasarkan pemahaman itu, maka peristiwa kebangkitan Yesus digambarkan penulis Injil Lukas sebagai suatu “gerakan pembebasan” atau lebih tepatnya “pemanusiaan manusia”.

Gerakan itu terjadi oleh adanya suatu kuasa yang besar di dalam kubur Yesus, dan kuasa itu adalah kuasa yang menghidupkan. Kuasa itu tidak terkurung di dalam alam maut, melainkan berjuang di dalam alam maut.

Artinya kuasa itu tidak mati, kuasa itu bersifat operatif, bekerja atau lebih tepatnya berjuang patahkan belenggu kuasa maut. Maut adalah gambaran tentang kuasa yang besar dan tidak bisa dikendalikan oleh siapa pun.

Karena itu dengan menang atas kuasa maut, maka Lukas hendak nyatakan bahwa tidak ada kuasa yang lebih besar dari kuasa Tuhan, dan buktinya adalah Yesus yang mati itu bangkit.

Atas iman itu, penulis injil Lukas menulis begini: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?” (Lukas 24:5b). Pertanyaan itu bersumber dari keyakinan dasar bahwa Yesus hidup di antara orang mati.

Artinya kebangkitan-Nya terjadi oleh sebab Ia hidup dan kuasa di dalam-Nya adalah kuasa kehidupan, kuasa yang menghidupkan.

Kuasa itu yang menjadi alasan bahwa Yesus hidup, meskipun Ia berada di antara orang mati. Ia ada di antara mereka namun Ia tidak mati, melainkan Ia berjuang untuk menyatakan kekuasaan-Nya atas kematian dan maut itu.

Itulah sebabnya, iman kepada kebangkitan Yesus menuntun kita percaya dan berpaut pada kuasa yang menghidupkan. Kekuasaan yang terjadi di dalam kubur itu adalah kekuasaan Tuhan.

No More Posts Available.

No more pages to load.