Kisah M. Roem Ohoirat dari Tukang Pikul Kayu, Asdos, PNS, Kapolres, Hingga Kabid Humas Polda Maluku

oleh -25,461 views
oleh
Kombes Ohoirat

Selama kembali ke kota Tual tahun 1992, ia sempat ikut tes calon pegawai negeri sipil (PNS) di BKKBN. Ternyata dirinya lulus dan berstatus SK PNS 80 persen. Beberapa waktu kemudian Ohoirat dipanggil ikut pendidikan Pra Jabatan.

“Tetapi beta tidak ikut Pra Jabatan. Beta mengundurkan diri,” katanya. Mengapa? “Sebab beta punya cita-cita tetap ingin jadi dosen. Makanya setelah undur diri dari PNS, beta kembali ke kota Ambon,” ungkapnya.

Namun sesampainya di Ambon tahun 1994. Keinginan menjadi dosen tidak terwujud. Lantaran tidak ada formasi penerimaan dosen baru di Unpatti. Dari sinilah perjuangan perjalanan hidupnya berubah.

Foto bersama keluarga

Ohoirat lantas bekerja serabutan. Pekerjaan apa saja ia jalani. Lalu ada tawaran bekerja pada gudang/toko kayu di kawasan Wayame. Meski berijasah sarjana, ia tidak minder bekerja disitu.

“Kerja di gudang kayu itu bukan jadi pegawai. Tapi tukang pikul kayu dari truk ke gudang atau sebaliknya. Yah, jalani saja untuk makan sehari-hari,” ujarnya, mengenang momen itu.

Di saat bekerja sebagai tukang pikul kayu, Ohoirat dapat informasi bahwa Polri buka penerimaan anggota khusus yang berpendidikan sarjana (S1) melalui jalur Sekolah Perwira Prajurit Karier (Sepa PK).

Ia lantas ikut mendaftar di Polda Maluku. Dirinya lulus seleksi panitia daerah. Namun saat seleksi terpusat di Magelang, Ohoirat gagal jadi prajurit Polri. Ia tak patah semangat dan kembali ke Ambon.

“Ada yang lucu waktu pemeriksaan badan. Panitia tanya, kenapa bahu nya bengkak? Beta jawab saja, ini karena saudara pindah rumah jadi pikul barang-barang. Padahal aslinya karena kerja pikul kayu,” beber Ohoirat, tertawa kenangan itu.

No More Posts Available.

No more pages to load.